preloader

DEVOTION

BENTENG PERTENGKARAN

25 May 2026

[2Sam. 22 & 23] [Yoh. 5:1-18] [Mzm. 119:89-96] [Ams. 18:16-24]

"Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri"
(Amsal 18:19)

Dalam setiap hubungan, konflik hampir mustahil untuk dihindari, seakan-akan ini menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita meresponi dan menghadapi konflik yang terjadi. Apakah kita memilih untuk membangun jembatan atau membangun palang gapura ('Bars of castle'). 

Amsal 18:19 menggambarkan tentang perselisihan yang tidak terselesaikan akan menimbulkan kerusakan. Dari ayat ini, kita akan mengupas tiga kebenaran:

Pertama: Hati yang terluka bagaikan kota yang kuat. Pada bagian pertama dalam Amsal 18:19 membandingkan orang yang terkhianati dengan kota yang kuat. Gambaran ini tentunya mudah dimengerti bagi mereka yang hidup di zaman itu. Kota-kota besar seperti Yerusalem dan Babel dilengkapi dengan benteng yang tebal dan pintu gerbang yang dirancang untuk menjaga kota dengan aman. Sama halnya dengan orang yang dikhianati, mereka membangun benteng yang kokoh untuk menjaga jarak dan menolak perdamaian. Kata dikhianati bukan berarti tindakan pasif, melainkan mengandung arti secara aktif dan terus menerus menolak rekonsiliasi. Dalam sebuah keluarga, satu kata kasar saja bisa membuat para individu tidak saling bicara bertahun-tahun. Mereka yang merasa dikhianati seakan-akan meneguhkan hatinya untuk tidak mau bicara, memulai hubungan dan membiarkan perang dingin berlangsung. Langkah pertama yang perlu disadari adalah segera mengenali tanda-tanda perselisihan sebelum temboknya terlalu tinggi.

Kedua: Pertengkaran bagaikan palang yang memenjara. Pada zaman kuno, palang gapura ('the Bars of Castle') digunakan untuk mengamankan pintu gerbang, yaitu untuk mencegah orang keluar maupun masuk. Pertengkaran akan menghasilkan hal yang sama, dimulai dari perbedaan pendapat, atau ketidaksetujuan atas satu hal, bisa berubah menjadi sebuah penjara kepahitan, yang memenjarakan kedua belah pihak. 

Apabila di tempat kerja ada perselisihan dan pertikaian, maka kerjasama dan kolaborasi akan menjadi sulit bahkan mustahil karena rekan kerja seolah-olah membangun tiang/palang yang meneguhkan tembok pemisah.
 
Ketiga: Kunci pemulihan hubungan adalah kerendahan hati. Pengkhianatan membangun tembok dan pertengkaran meneguhkannya dengan tiang. Bagaimana caranya untuk menghancurkannya? Hanya dengan kerelaan untuk merendahkan diri. Dalam Amsal 15:1 dikatakan bahwa jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman dan Yesus pun memberikan teladan ketika Ia mematahkan perselisihan di antara para murid-Nya dengan merendahkan diri-Nya dan membasuh kaki mereka. 

Hari ini, bagaimana kita bisa melakukannya? Berusahalah untuk menjadi inisiator dalam meminta maaf, bahkan sekalipun Anda merasa ada pihak yang benar. Pada akhirnya, Amsal 18:19 bukan sekadar peringatan, melainkan petunjuk dan perintah untuk menyelesaikan perselisihan dengan bijaksana. 

Sebuah hubungan yang kuat bukanlah hubungan tanpa konflik, tetapi hubungan di mana kasih dan kerendahan hati mengalahkan keangkuhan. Kemenangan kita bukanlah ketika kita dinyatakan sebagai pihak yang benar, tetapi ketika kita merdeka dari penjara tembok kota yang menghalangi sebuah hubungan dan meruntuhkan benteng pertengkaran melalui kerendahan hati. (ES)

HFC MAGAZINE