JANGAN MENUNDA KEBAIKAN
1 Sep 2026
[Pkh. 9 & 10] [1Kor. 7:1-16] [Mzm. 55] [Ams. 20:24-30]
"Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, apabila hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba" (Pengkhotbah 9:12)
Kehidupan manusia berjalan di antara kepastian dan ketidakpastian. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki waktu untuk hidup, bekerja, mengasihi, dan berkarya, tetapi tidak seorang pun mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada hari esok. Pengkhotbah 9:12 mengingatkan kita pada kenyataan tersebut dengan gambaran yang sederhana, tetapi kuat: seperti ikan yang tiba-tiba tertangkap dalam jala dan burung yang terjerat dalam perangkap, demikian pula manusia dapat menghadapi keadaan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Kesadaran akan ketidakpastian hidup seharusnya bukan membuat kita hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi dorongan untuk menjalani hari ini dengan lebih bijaksana. Sering kali manusia terlalu sibuk memikirkan masa depan hingga lupa menghargai kesempatan yang ada di depan mata. Kita berkata, “Nanti saja,” ketika hendak meminta maaf, mengucapkan terima kasih, mengunjungi keluarga, membantu seseorang, atau meluangkan waktu untuk Tuhan.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak kesempatan yang masih kita miliki. Ada orang yang menunda berbuat baik karena merasa masih memiliki banyak waktu. Ada pula yang terus mengejar keberhasilan sampai lupa bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang hubungan, kasih, dan tanggung jawab kepada Tuhan serta sesama.
Pengkhotbah 9:7-10 memberikan keseimbangan terhadap peringatan tersebut. Kita diajak menikmati hidup sebagai pemberian Tuhan: makan dengan sukacita, minum dengan hati yang senang, menikmati kehidupan bersama orang yang dikasihi, dan melakukan pekerjaan dengan sekuat tenaga. Dengan demikian, ketidakpastian hidup bukan alasan untuk pasif, melainkan alasan untuk menggunakan setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya.
Kita tidak perlu mengetahui seluruh masa depan untuk dapat menjalani hari ini dengan benar. Yang perlu kita lakukan adalah setia pada tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bekerja, bekerjalah dengan jujur. Jika masih diberi keluarga, kasihilah mereka dengan sungguh-sungguh. Jika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, jangan selalu menunggu waktu yang dianggap lebih tepat.
Kehidupan memang penuh dengan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun, kita masih dapat memilih bagaimana kita menjalani hari ini. Kita dapat memilih untuk bersyukur daripada mengeluh, mengasihi daripada menyimpan kepahitan, mengampuni daripada terus mengingat kesalahan, dan melakukan kebaikan daripada menundanya.
Pada akhirnya, Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa manusia tidak mengetahui waktunya. Karena itu, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Hari ini mungkin terlihat biasa, tetapi sebenarnya merupakan anugerah yang tidak akan kembali dengan cara yang sama. Oleh sebab itu, jangan menunggu hari esok untuk melakukan kebaikan yang dapat dilakukan hari ini.
Nikmati kehidupan sebagai anugerah Tuhan, kerjakan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, kasihi orang-orang di sekitar kita, dan tetaplah hidup dekat dengan Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi kita dapat menyerahkan hari esok kepada Tuhan sambil menjalani hari ini dengan setia….tetap semangat dan Tuhan Yesus memberkati. (DSP)