preloader

Welcome to Happy Family Center

Selamat datang di Happy Family Center. Gereja HFC adalah sebuah gereja dengan dinamika pelayanan dan ibadah yang beragam sepanjang minggu. Fokus pelayanan dan kegiatannya selalu berpusat pada 4 pilar penting, yakni: Pengajaran, Penyembahan, Misi, dan Pemuridan. Gereja HFC memiliki visi "Mengubah Dunia Melalui Keluarga".

Lihat Profil HFC

Schedule

JOIN US

Bergabunglah bersama keluarga besar HFC. Temukan berbagai kegiatan, komunitas, dan pelayanan yang sesuai dengan anda.



"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."
Mazmur 119:97

Happy Bible Club merupakan aplikasi membaca Alkitab tahunan yang akan memfasilitasi kita membaca Firman Tuhan dengan mudah & menyenangkan. Kelebihan dari aplikasi ini adalah bacaan ayat yang bervariasi, mulai dari Mazmur, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru & Amsal. Aplikasi ini juga disertai renungan setiap hari, sesuai ayat yang dibaca pada hari itu. Jadwal pembacaan Alkitab diatur sehingga dalam 1 tahun bisa menyelesaikan seluruh pembacaan Alkitab. Dapatkan aplikasi ini di platform Android, Apple & Web (silahkan klik salah satu icon dibawah ini).

Member Service

DEVOTION

GENERASI YANG TIDAK MENGENAL TUHAN

17 Apr 2026

[Hak. 2 & 3] [Luk. 10:1-20] [Mzm. 95] [Ams. 6:12-19]

"Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel" (Hakim-hakim 2:10)

Kitab Hakim-hakim yang kita baca hari ini sangat relevan dengan hidup kita saat ini. Hari-hari kita disibukkan dengan pekerjaan dan kesulitan hidup yang sangat menguras pikiran dan energi. Sampai kita lupa tujuan utama kita diciptakan. Bahkan melupakan Pencipta kita dan menganggap diri sendiri lebih utama. Merasa pencapaian di dalam hidupnya adalah hasil dari usahanya sendiri.

Firman Tuhan yang kita baca hari ini memperingatkan kita akan beberapa hal yaitu:

Pertama, Munculnya generasi yang tidak mengenal Tuhan.

Ketika kita fokus pada hal yang salah dan menganggap perintah Tuhan bukanlah suatu yang penting dan utama, maka tanpa kita sadari akan muncul suatu generasi yang tidak mengenal Tuhan.

Akhir-akhir ini semakin banyak kita jumpai anak muda yang tidak percaya Tuhan atau tahu ada Tuhan tapi tidak menganggap penting atau menganggap Tuhan tidak ada hubungan dengan dirinya. Bukankah kalau mau makan harus bekerja. Kalau mau kaya harus bekerja lebih keras, dsb.

Warisan terpenting orang tua untuk anak-anaknya adalah warisan iman. Sejak kecil anak-anak WAJIB diperkenalkan dengan Tuhan. Mengajarkan mereka untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan akal budi. Karena inilah yang terpenting dalam hidup mereka agar mereka tidak menyimpang dari kebenaran. Dan ini sudah diperintahkan Tuhan seperti tertulis di dalam kitab Ulangan 6:7: "Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."

Bila sampai muncul generasi yang tidak mengenal Tuhan, berarti orang tua tidak melakukan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Bukan hanya mengajarkan tapi orang tua juga bersaksi atas perjalanan hidupnya bersama Tuhan dan mendoakan agar anak-anaknya juga memiliki pengalaman pribadi bersama Tuhan.

Kedua, Sifat manusia yang selalu kembali pada pola dosa.

Daging memang lemah dan karena dosa maka manusia memiliki kecenderungan mengikuti yang jahat, yang instan dan suka kebebasan. Dosa membuat manusia mengutamakan dirinya sendiri. Bukan Tuhan. Dosa membuat manusia tidak taat, tidak setia dan suka memberontak.

Di saat Tuhan murka dan tidak ada perlindungan dari Tuhan, sehingga mereka mengalami penindasan dan kesulitan, barulah mereka kembali mencari Tuhan.

Kemerdekaan dan kenyamanan tanpa berjaga-jaga serta melekat pada Tuhan, seringkali membuat seseorang jatuh dalam dosa yang berujung kesengsaraan. Saat itu mereka akan mencari Tuhan dan bertobat, hidupnya dipulihkan. Kemudian akan kembali lagi kepada pola yang sama yaitu kenyamanan, murtad, melakukan dosa, kesengsaraan, bertobat, dipulihkan dan seterusnya.

Ketiga, Kasih dan kesetiaan Tuhan. 

Bangsa Israel saat itu sudah demikian menyakiti Tuhan. Memaksa Tuhan untuk tetap bersama mereka, sedangkan mereka mulai hidup dengan berhala-hala mereka. Dan itu sangat menyakiti hati Tuhan. Walaupun demikian Tuhan tidak dapat mengingkari janji-Nya kepada nenek moyang mereka. Kalau Tuhan memberikan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh serta mendatangkan malapetaka kepada mereka seperti yang sudah diperingatkan, bukan berarti Tuhan membuang mereka. Tapi agar mereka kembali ingat akan perintah Tuhan dan hidup seperti nenek moyang mereka. Bahkan karena kasih-Nya Tuhan membangkitkan para hakim yaitu  orang-orang yang diurapi Tuhan untuk menyelamatkan dan membebaskan bangsa Israel dari musuh.

Setelah para hakim itu meninggal mereka kembali pada pola dosa yang sama. Bukankah itu juga yang sering kita lakukan? Saat situasi nyaman kita tidak fokus pada Tuhan, menikmati kenyamanan sampai lupa pada Tuhan. Saat sengsara kita mulai datang pada Tuhan meminta pertolongan. Ketika Tuhan sudah menolong kita, hendaknya kita semakin dekat dengan Tuhan bukan mengulangi lagi pola dosa itu.

Kita bersyukur memiliki Tuhan yang setia dan tetap mengasihi kita. Karena kasih-Nya yang besar, Tuhan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16).

Janganlah menyia - nyiakan waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Mari kita tidak henti-hentinya menceritakan kebaikan Tuhan yang sudah kita terima kepada keturunan kita. Memperkenalkan Tuhan kepada mereka dan mendoakan mereka memiliki persekutuan pribadi bersama Tuhan. 

Menjaga diri untuk tidak kembali pada pola dosa yang sama dengan membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan. Melatih diri kita untuk memiliki disiplin dan pengendalian diri yang kuat. Memiliki komunitas yang sehat.

Mensyukuri kasih dan setia Tuhan dengan menjalankan hidup ini dengan benar dan memuliakan Tuhan. Pergumulan hidup seringkali dipakai Tuhan untuk mengajarkan agar kita untuk kembali kepada Tuhan, semakin percaya dan mengandalkan kasih karunia Tuhan, Amin. (VG)