KARENA KASIH-NYA
11 Dec 2025
[Hos. 10 & 11] [Yud. 1:1-25] [Mzm. 127] [Ams. 23:19-28]
"Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan" (Hosea 11:8-9)
Kitab Hosea menggambarkan hubungan antara Tuhan dengan Israel sebagai hubungan suami dan istri—di mana Israel berulang kali tidak setia dan meninggalkan Tuhan untuk berhala-berhala. Pasal 11 adalah salah satu bagian yang paling menyentuh karena Tuhan berbicara sebagai seorang Bapa yang membesarkan Israel dari kecil, mengajar mereka berjalan, dan memelihara mereka dengan kasih (Hosea 11:1–4). Namun, meski demikian, Israel tetap memberontak dan memilih jalan yang jauh dari-Nya.
Pada ayat 8–9, Tuhan menggambarkan pergumulan batin ilahi: antara keadilan yang menuntut hukuman dan kasih yang tidak sanggup membiarkan umat-Nya binasa. Ia menyebut Adma dan Zeboim dua kota yang hancur bersama Sodom dan Gomora, sebagai gambaran hukuman seharusnya. Tetapi Tuhan menahan murka-Nya. Ia menegaskan: “Aku ini Allah dan bukan manusia,” artinya kasih dan belas kasihan-Nya jauh melampaui batas manusia. Inilah puncak pewahyuan kasih Bapa: Ia tidak menyerah kepada umat-Nya meskipun mereka jatuh berkali-kali. Dari ungkapan hati Tuhan ini, kita menemukan tiga kebenaran penting tentang karakter Allah yang menjadi dasar pengharapan bagi kita.
Pertama: Kasih Allah Lebih Besar dari Pemberontakan Kita. Ini menunjukkan betapa dalamnya cinta Allah. Meski Israel memberontak, Tuhan berkata, “Masakan Aku membiarkan engkau?” Kasih Allah tidak berubah oleh kegagalan manusia. Ia tidak cepat membuang, tidak mudah melepaskan, dan tidak tergoncang oleh ketidaksetiaan kita. Kasih manusia sering terbatas oleh rasa sakit yang diterima, tetapi kasih Allah melampaui itu. Ketika kita jatuh berulang kali, Ia tetap memanggil kembali, bukan karena kita layak, tetapi karena kasih-Nya tidak pernah gagal. Kasih Allah selalu membuka pintu bagi pertobatan dan pemulihan.
Kedua: Belas Kasihan Allah Mengalahkan Murka-Nya. Tuhan berkata, “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak.” Allah tidak menutup mata terhadap dosa, tetapi Ia memilih belas kasihan sebagai respon. Murka Allah adalah nyata dan kudus, tetapi belas kasihan-Nya lebih besar lagi. Ia menahan hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada kita. Seperti seorang Ayah yang sedang dihancurkan oleh kesalahan anaknya tetapi tetap memikirkan bagaimana menyelamatkannya, demikianlah hati Allah terhadap kita. Belas kasihan-Nya yang mendahului hukuman inilah yang memimpin kita kepada pertobatan sejati.
Ketiga: Kesetiaan Allah Berdasarkan Kekudusan-Nya, Bukan Kelemahan Manusia. Tuhan menegaskan: “Aku ini Allah dan bukan manusia.” Manusia mudah berubah, cepat marah, cepat kecewa, dan mudah menyerah. Tetapi Tuhan tidak seperti itu. Kekudusan-Nya berarti Ia tetap setia bahkan ketika kita tidak setia. Ia hadir “di tengah-tengah” umat-Nya bukan untuk menghanguskan, tetapi untuk memulihkan. Kesetiaan Allah tidak lahir dari emosi, tetapi dari karakter-Nya yang tidak berubah. Ia memegang perjanjian-Nya, memelihara umat-Nya, dan bekerja untuk membawa mereka kembali kepada-Nya.
Kasih Allah dalam Hosea 11:8–9 mengingatkan kita bahwa tidak ada kegagalan yang terlalu besar sehingga Allah menyerah pada kita. Karena itu, marilah kembali kepada-Nya dengan hati yang sungguh. Jika kita merasa jauh, Ia memanggil pulang. Jika kita merasa tidak layak, Ia tetap mengampuni. Jika kita takut pada murka, Ia menawarkan belas kasihan.
Biarlah renungan ini meneguhkan kita bahwa Allah yang kudus itu tetap setia, tetap mengasihi, dan tetap menginginkan kita kembali dalam pelukan-Nya, Amin. Tuhan Yesus Memberkati. (SG)