MELAYANI BUKAN UNTUK DIHORMATI
9 Feb 2026
[Kel. 29 & 30] [Mat. 23:1-22] [Mzm. 36] [Ams. 15:1-7]
"Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Matius 23:8-12)
Istilah “pendeta”, “hamba Tuhan”, atau “pastor” di zaman sekarang ini sudah menjadi suatu titel yang dihormati di kalangan umat Kristen. Jemaat menganggap seorang hamba Tuhan adalah seorang yang harus dihormati dan dituakan dalam gereja. Tidak sedikit juga orang Kristen yang mengejar titel ini demi mendapatkan kehormatan di dalam gereja. Dalam taraf tertentu, seorang hamba Tuhan, apalagi yang mengajar dan berkhotbah, patut untuk dihormati (1 Tim. 5:7). Namun, ada lubang yang harus dihindari oleh setiap hamba Tuhan, yakni mengejar kehormatan itu sendiri.
Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang hal ini. Perilaku orang-orang Farisi serta ahli-ahli Taurat pada zaman itu tidak mencerminkan apa yang mereka ajarkan (ay. 2). Mereka meletakkan standar kekudusan yang tinggi bagi masyarakat, tapi mereka sendiri tidak melakukannya (ay. 13). Mereka orang-orang munafik, yang memakai pakaian agamawi, menuntut untuk dipanggil dengan titel tertentu, tapi hati mereka tidak sesuai dengan outfit dan jabatan mereka. Mereka lebih mementingkan kehormatan mereka, ketimbang kemurnian hati mereka dalam melayani. Pertanyaan yang sama juga patut kita ajukan pada diri kita sendiri: apakah saya melayani supaya dihormati atau saya melayani karena saya mengasihi gereja Tuhan?
Yesus bukan hanya memperingati kita tentang hal ini, tapi Dia juga memberikan teladan bagaimana seharusnya seorang melayani Tuhan. Seorang yang mengaku dirinya paling besar, paling dihormati, justru harus menjadi pelayan bagi sesamanya dengan hati yang tulus (ay. 11). Kehormatannya tidak terletak pada titel “hamba Tuhan”, “pelayan Tuhan”, “pastor”, dan lain-lainnya, melainkan pada pelayanan itu sendiri. Kata “diakonos”, yang biasa dipakai untuk merujuk pada pelayan Tuhan di Perjanjian Baru, umumnya dipakai untuk merujuk pada pelayan meja makan. Yang artinya, titel itu sendiri pada awalnya tidak memiliki konotasi penghormatan apa pun.
Hal lain yang perlu diingat adalah kehormatan itu tidak dikejar, dicapai, atau diusahakan sendiri, melainkan diberikan oleh Allah (ay. 12). Kalimat yang sama diucapkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 18:14 berkenaan seorang pemungut cukai yang dibenarkan Allah karena mau mengaku dosanya. Bukan hanya keselamatan saja yang diterima oleh anugerah Allah, pelayanan kita pun merupakan anugerah Allah. Bayangkanlah, Allah yang Mahakudus itu mau mengangkat kita orang-orang berdosa untuk menjadi pelayan-Nya. Tidak ada jasa, doa, atau amal ibadah apa pun yang membuat kita layak, hanya anugerah saja.
Baiklah lewat renungan ini, kita kembali diingatkan mengenai apa artinya menjadi seorang hamba Tuhan. Apa pun pelayanan kita, seremeh apa pun pekerjaannya, ingatlah bahwa Allah yang mengangkat dan melayakkan kita untuk melayani-Nya. (HDM)