preloader

Welcome to Happy Family Center

Selamat datang di Happy Family Center. Gereja HFC adalah sebuah gereja dengan dinamika pelayanan dan ibadah yang beragam sepanjang minggu. Fokus pelayanan dan kegiatannya selalu berpusat pada 4 pilar penting, yakni: Pengajaran, Penyembahan, Misi, dan Pemuridan. Gereja HFC memiliki visi "Mengubah Dunia Melalui Keluarga".

Lihat Profil HFC

Schedule

JOIN US

Bergabunglah bersama keluarga besar HFC. Temukan berbagai kegiatan, komunitas, dan pelayanan yang sesuai dengan anda.



"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."
Mazmur 119:97

Happy Bible Club merupakan aplikasi membaca Alkitab tahunan yang akan memfasilitasi kita membaca Firman Tuhan dengan mudah & menyenangkan. Kelebihan dari aplikasi ini adalah bacaan ayat yang bervariasi, mulai dari Mazmur, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru & Amsal. Aplikasi ini juga disertai renungan setiap hari, sesuai ayat yang dibaca pada hari itu. Jadwal pembacaan Alkitab diatur sehingga dalam 1 tahun bisa menyelesaikan seluruh pembacaan Alkitab. Dapatkan aplikasi ini di platform Android, Apple & Web (silahkan klik salah satu icon dibawah ini).

Member Service

DEVOTION

ANAK-ANAK ANJING

7 Mar 2026

[Bil. 14 & 15] [Mrk. 7:24-37] [Mzm. 60] [Ams. 22:17-21]

(Markus 7:24-30) 

Beberapa waktu lalu, ibadah youth gereja saya baru selesai membahas Roma 11. Saya memulai seri kotbah dari surat Roma sejak 2 tahun lalu. Saya menjelaskan kepada mereka bagaimana kondisi jemaat di Roma yang mengalami semacam perpecahan di dalamnya, antara jemaat non-Yahudi dengan jemaat Yahudi. Jemaat Yahudi merasa superior dikarenakan merekalah yang mewarisi Taurat dan janji-janji Tuhan. Sementara jemaat non-Yahudi merasa superior karena mereka bisa percaya Yesus tanpa perlu lahir dari keturunan Abraham.

Namun, di teks yang kita baca kali ini, kita fokus pada superioritas Yahudi. Adanya rasa superioritas inilah yang membuat Yesus berusaha untuk menyembunyikan aktivitas perjalanan-Nya ke Tirus. Orang-orang Yahudi percaya bahwa haram hukumnya memasuki rumah bangsa-bangsa lain (lihat juga isu yang sama dalam Kis. 10). Di perikop sebelumnya pun, Yesus sudah mulai membuka ruang untuk mempersatukan orang-orang Yahudi dengan bangsa-bangsa lain dengan mengatakan bahwa semua makanan halal (pernyataan yang sama yang juga diterima oleh Petrus di Kis. 10). Yesus ingin membangun gereja-Nya yang universal secara perlahan-lahan, tanpa menyinggung orang Yahudi.

Di sisi lain, Dia kelihatannya seolah menyinggung non-Yahudi dengan menyebut perempuan Siro-Fenisia ini sebagai “anjing”. Namun, jika diperhatikan secara bahasa aslinya, Yesus menggunakan kata yang lebih lembut yakni “anak anjing” atau “anjing kecil”. Benar, dalam pandangan Yahudi, bangsa-bangsa lain adalah anjing. Tapi Yesus memberikan petunjuk lewat ucapan-Nya bahwa mereka tetap diterima. Inilah yang mendorong perempuan Siro-Fenisia ini untuk rendah hati menerima posisinya dan memohon dengan iman bahwa Yesus pasti menerimanya sebagai “anjing kecil”-Nya.

Sekarang, lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus telah meruntuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan non-Yahudi (Ef. 2:14). Maka seharusnya, tidak boleh ada lagi arogansi di dalam gereja antara suku yang satu dengan yang lain, antara ras yang satu dengan yang lain, antara gender yang satu dengan yang lain. Semuanya merupakan anggota dari satu tubuh Kristus.

Beberapa waktu belakangan ini, saya mengingat kembali gereja saya di Bali. Saya baru menyadari bahwa hanya di gerejalah, semua suku bangsa bisa berkumpul dengan iman yang sama. Apabila Anda pergi ke Bali, Anda tak akan menemukan orang Jawa atau orang Timur pergi ke Pura. Anda tak akan menemukan orang Bali pergi ke masjid. Hanya di gereja Tuhan, semua suku bangsa bisa bersatu dalam kasih Kristus. (HDM)