RENCANA YANG BAIK BELUM TENTU BENAR
13 Feb 2026
[Kel. 37 & 38] [Mat. 25:1-30] [Mzm. 38] [Ams. 16:1-7]
"Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati.
Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu" (Amsal 16:2-3)
Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk merasa bahwa jalan hidupnya sudah benar. Selama niat terasa baik dan tidak merugikan orang lain, manusia sering menganggap dirinya berada di jalur yang tepat. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa penilaian manusia sangat terbatas. Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di luar, melainkan menyelidiki hati dan motivasi terdalam. Karena itu, hidup orang percaya dipanggil bukan hanya untuk berjalan menurut penilaiannya sendiri, tetapi untuk menyerahkan seluruh perbuatannya kepada Tuhan.
Dalam ayat diatas kita diingatkan kembali melalu tiga poin berikut:
Pertama: Manusia Cenderung Membenarkan Jalannya Sendiri.
Amsal 16:2 menyatakan bahwa segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri. Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk membenarkan keputusan dan tindakannya. Penilaian tersebut sering dibangun atas dasar logika, perasaan, pengalaman, dan kepentingan pribadi. Dalam kondisi seperti ini, hati manusia mudah tertipu karena standar kebenaran ditentukan oleh diri sendiri, bukan oleh Firman Tuhan. Akibatnya, seseorang dapat terlihat benar secara moral, tetapi sesungguhnya sedang menjauh dari kehendak Allah. Firman Tuhan mengingatkan bahwa apa yang tampak lurus bagi manusia belum tentu berkenan di hadapan Tuhan.
Kedua: TUHAN Menguji dan Menilai Hati Manusia.
Berbeda dengan manusia yang menilai dari luar, Tuhan adalah Pribadi yang menguji hati. Pengujian Tuhan tidak terbatas pada tindakan yang terlihat, melainkan menembus hingga motivasi dan sikap batin. Tuhan mengetahui apakah suatu perbuatan dilakukan demi kemuliaan-Nya atau demi kepentingan diri sendiri. Ujian hati dari Tuhan bukan bertujuan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyatakan kebenaran dan memurnikan iman umat-Nya. Dengan begitu, kehidupan rohani yang sejati bukan diukur dari kesibukan rohani atau penampilan luar, tetapi dari hati yang jujur, rendah, dan takut akan Tuhan.
Ketiga: Penyerahan Diri kepada Tuhan Menjadi Dasar Terlaksananya Rencana.
Amsal 16:3 memberikan prinsip rohani yang sangat penting, yaitu menyerahkan perbuatan kepada Tuhan. Penyerahan ini berarti mempercayakan seluruh rencana, usaha, dan keputusan hidup kepada kehendak Allah. Ketika seseorang sungguh-sungguh menyerahkan dirinya kepada Tuhan, ia tidak lagi memaksakan keinginannya sendiri, melainkan bersedia diarahkan dan dibentuk oleh Tuhan. Firman Tuhan menegaskan bahwa dalam penyerahan seperti inilah rencana dapat terlaksana, bukan semata-mata karena kekuatan manusia, tetapi karena Tuhan sendiri yang meneguhkan langkah-langkah hidupnya. Keberhasilan sejati adalah keberhasilan yang berjalan seiring dengan kehendak Tuhan.
Sebagai orang percaya, mari mengoreksi setiap motivasi hati di hadapan Tuhan dan tidak mengandalkan penilaian diri sendiri. Setiap rencana hidup, pelayanan, pekerjaan, dan masa depan perlu diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan melalui doa dan ketaatan. Ketika hati diselaraskan dengan kehendak Allah, Tuhan sendiri yang akan memimpin, mengarahkan, dan menggenapi rencana-Nya dalam hidup kita, Amin. Tuhan Yesus Memberkati. (SG)