DOMBA DI TENGAH SERIGALA
16 Jan 2026
[Kej. 31 & 32] [Mat. 10:16-42] [Mzm. 16] [Ams. 6:20-35]
Seekor rusa berdiri di tepi sumber air, setiap ototnya menegang dalam kewaspadaan karena di sekelilingnya, para pemangsa sedang mengintai di balik rerumputan. Ia tidak bisa berpura-pura menjadi singa untuk bertahan hidup, karena ia lemah lembut dan diciptakan untuk berlari, bukan bertarung. Namun ia telah mempelajari sesuatu yang sangat penting: yaitu waspada. Ia tahu kapan harus minum, di mana harus berdiri, dan bagaimana membaca pergerakan lawan. Rusa memang terlihat polos tapi ia tidak bodoh; justru kelemahannya membuatnya bijaksana.
Inilah gambaran Yesus dalam Matius 10:16: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Yesus mengatakan hal ini ketika Ia mengutus kedua belas murid untuk melayani. Ia menyatakan hal-hal apa yang akan mereka hadapi: penganiayaan, pengkhianatan, cambukan dan pengadilan di hadapan para penguasa.
Ini bukan motivasi yang menjanjikan kenyamanan dan kesuksesan karena Yesus sedang mempersiapkan mereka untuk bertahan hidup di dunia yang akan membenci mereka karena nama-Nya. Ada tiga hal yang bisa kita pelajari:
Pertama: Paradoks Karakter Ganda
Yesus menuntut kombinasi yang unik: kecerdikan seperti ular dan ketulusan seperti merpati. Ular melambangkan hikmat, kepekaan, dan pemikiran strategis. Merpati melambangkan kemurnian, ketulusan, dan sikap yang tidak membahayakan.
Kebanyakan orang cenderung ekstrem ke salah satunya, entah idealisme yang naif atau manipulasi yang sinis. Yesus menuntut keduanya. Kita harus cukup bijaksana untuk mengenali bahaya dan penipuan, namun cukup murni sehingga tidak menjadi serupa dengan musuh.
Kedua: Rentan, tetapi Tidak Menjadi Korban
Domba di tengah serigala memang sangat lemah dan rentan. Yesus tidak menjanjikan bahwa kita akan berubah menjadi serigala, atau singa. Kita tetap domba yang lembut, lemah dan tidak berdaya. Namun dalam segala keterbatasannya bukan berarti pasif.
Domba yang cerdik mengamati, beradaptasi, dan membuat keputusan bijak tentang kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Sebagai orang percaya, kita perlu menyadari bahwa kekuatan kita bukan terletak pada menandingi kelicikan dunia, melainkan pada integritas sekalipun di bawah tekanan.
Ketiga: Misi Lebih Penting
Melalui ayat-ayat ini, kita melihat bahwa prioritas utama Tuhan Yesus bukanlah kenyamanan para murid, melainkan penyelesaian misi. Kecerdikan dibutuhkan untuk melayani Injil dan hikmat akan menolong orang percaya untuk tahu bagaimana menyampaikan kebenaran dengan efektif, mengatasi rintangan budaya, dan memaksimalkan kesaksian.
Tujuannya bukan hanya sekedar bertahan hidup dengan segala cara, melainkan mengembangkan Kerajaan Allah. Kadang-kadang hikmat berarti berani bicara; di lain waktu, hikmat berarti diam sambil menunggu waktunya.
Perkataan Yesus masih tetap menggema hingga hari ini, Ia memberi petunjuk agar misiNya tuntas dalam hidup kita: tetaplah tulus, tetaplah bijaksana, dan tetaplah setia, AMEN. (ES)