preloader

Welcome to Happy Family Center

Selamat datang di Happy Family Center. Gereja HFC adalah sebuah gereja dengan dinamika pelayanan dan ibadah yang beragam sepanjang minggu. Fokus pelayanan dan kegiatannya selalu berpusat pada 4 pilar penting, yakni: Pengajaran, Penyembahan, Misi, dan Pemuridan. Gereja HFC memiliki visi "Mengubah Dunia Melalui Keluarga".

Lihat Profil HFC

Schedule

JOIN US

Bergabunglah bersama keluarga besar HFC. Temukan berbagai kegiatan, komunitas, dan pelayanan yang sesuai dengan anda.



"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."
Mazmur 119:97

Happy Bible Club merupakan aplikasi membaca Alkitab tahunan yang akan memfasilitasi kita membaca Firman Tuhan dengan mudah & menyenangkan. Kelebihan dari aplikasi ini adalah bacaan ayat yang bervariasi, mulai dari Mazmur, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru & Amsal. Aplikasi ini juga disertai renungan setiap hari, sesuai ayat yang dibaca pada hari itu. Jadwal pembacaan Alkitab diatur sehingga dalam 1 tahun bisa menyelesaikan seluruh pembacaan Alkitab. Dapatkan aplikasi ini di platform Android, Apple & Web (silahkan klik salah satu icon dibawah ini).

Member Service

DEVOTION

JANGAN CEPAT MENGHAKIMI

8 Aug 2026

[Ayb. 3 & 4] [Kis. 28: 1-16] [Mzm. 34] [Ams. 14:1-9]

“Ingatlah: siapa binasa dengan tidak bersalah, dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?” (Ayub 4:7)

Ada saatnya kita melihat seseorang mengalami kegagalan, kehilangan, penyakit, masalah keluarga, atau kesulitan ekonomi. Secara spontan kita mungkin berpikir, “Pasti ada yang salah dengan hidupnya.” Kita mudah menghubungkan penderitaan dengan kesalahan pribadi. Namun, apakah setiap penderitaan selalu merupakan akibat langsung dari dosa seseorang? Kisah Ayub mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.

Ayub 4:7 merupakan bagian dari perkataan Elifas kepada Ayub. Elifas sedang berusaha menjelaskan penderitaan Ayub berdasarkan pemahamannya bahwa orang yang menabur kejahatan akan menuai malapetaka. Secara umum, prinsip bahwa dosa memiliki konsekuensi memang benar. Namun, Elifas keliru ketika menerapkan prinsip tersebut secara sederhana kepada Ayub. Ia menganggap penderitaan Ayub sebagai bukti bahwa Ayub pasti telah melakukan kesalahan. Padahal, pembaca kitab Ayub mengetahui bahwa penderitaan Ayub bukanlah hukuman karena kejahatan tersembunyi.

Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghakimi keadaan seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat. Ada hal-hal yang tidak kita ketahui dalam kehidupan orang lain. Penderitaan seseorang tidak selalu menunjukkan bahwa ia sedang dihukum Tuhan. Karena itu, ketika melihat orang lain berada dalam pergumulan, panggilan kita bukanlah pertama-tama mencari kesalahannya, melainkan menghadirkan kasih dan penghiburan. 

Hari ini, mari berhenti menjadi seperti Elifas yang cepat memberikan kesimpulan. Belajarlah menjadi sahabat yang mau mendengar, mendoakan, dan mendampingi. Jangan menambah luka seseorang dengan perkataan yang menghakimi. (YS)