preloader
  Back   

KESETIAAN YANG DIUJI

(2 Tawarikh 14-15)

Menarik jika kita mempelajari kisah raja ketiga Kerajaan Yehuda, yaitu Asa. Kisah ini menjadi refleksi tentang kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Kesetiaan yang teruji adalah kesetiaan yang tahan menghadapi situasi baik maupun buruk, serta teruji oleh waktu. Kesetiaan Asa melewati semua ujian ini. Mari kita lihat bagaimana ujian-ujian tersebut.

Pertama, diuji oleh situasi baik. Selama sepuluh tahun, Kerajaan Yehuda berada dalam keadaan aman (2 Taw. 14:1). Pada masa itu, Asa melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan (2 Taw. 14:2). Ia menyingkirkan mezbah-mezbah asing dan bukit-bukit pengorbanan, memecahkan tugu-tugu berhala, dan menghancurkan tiang-tiang berhala. 

Ia juga memerintahkan orang Yehuda untuk mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dan mematuhi hukum serta perintah-Nya (2 Taw. 14:3-4). Ini adalah tindakan kesetiaan kepada Tuhan yang patut diteladani. Ini menjadi refleksi bagi kita: ketika hidup kita dalam keadaan aman dan diberkati tanpa banyak masalah, jangan sampai kesetiaan dan iman kita kepada Tuhan mengendur. Sebaliknya, kita harus tetap teguh dan setia kepada-Nya.

Kedua, diuji oleh situasi tidak baik. Setelah sepuluh tahun masa damai, keadaan Asa berubah drastis ketika Zerah orang Etiopia menyerang Kerajaan Yehuda dengan sejuta tentara dan tiga ratus kereta perang (2 Taw. 14:9). Saat itu Asa hanya memiliki tiga ratus ribu orang yang membawa perisai besar dan tombak, serta dua ratus delapan puluh ribu orang Benyamin yang membawa perisai kecil dan busur panah (2 Taw. 14:8). Jumlah mereka sangat tidak sebanding dengan pasukan musuh.

Namun dalam kondisi sulit itu, iman Asa tetap tertuju kepada Tuhan Allahnya. Ia mengambil keputusan untuk berseru meminta pertolongan Tuhan, dan Tuhan memukul kalah orang-orang Etiopia itu (2 Taw. 14:12). Sayangnya, ketika kita membaca 2 Tawarikh 16, Asa tidak lagi setia kepada Tuhan karena ia bersandar kepada raja Aram dan para tabib, bukan kepada Tuhan. Ini menjadi refleksi bagi kita: saat kita menghadapi masalah yang berat, jangan kendorkan kesetiaan kita kepada Tuhan, melainkan tetaplah teguh dan setia kepada-Nya.

Ketiga, diuji oleh waktu. Setelah kemenangan atas orang Etiopia, Asa menerima arahan dari Azarya bin Oded yang dikuasai oleh Roh Tuhan (2 Taw. 15:1-7). Dengan rendah hati, Asa menerima nasihat itu dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Ia menguatkan hatinya dan membawa pertobatan besar bagi Kerajaan Yehuda (2 Taw. 15:8-16). Tercatat bahwa Asa memiliki hati yang tulus ikhlas sepanjang hidupnya (2 Taw. 15:17). 

Kesetiaannya teruji oleh waktu hingga tahun ketiga puluh lima pemerintahannya. Namun, pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya, Asa mulai bersandar kepada tabib, bukan kepada Tuhan (2 Taw. 16:12), hingga akhirnya ia meninggal. Ini menjadi refleksi bagi kita: sampai akhir hidup kita, jangan kendurkan kesetiaan dan iman kita kepada Tuhan, tetapi tetaplah teguh dan setia kepada-Nya.

Inilah kisah Asa. Dari Asa kita belajar bahwa kesetiaan sejati kepada Tuhan tidak hanya dibuktikan dalam situasi yang baik atau saat menghadapi masalah besar, tetapi juga diuji oleh perjalanan waktu sepanjang hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita tetap setia, beriman, dan bergantung kepada Tuhan Yesus sampai akhir hayat kita. Sekali Yesus, selamanya Yesus. (YAS)

Share