preloader
  Back   

CINTA KURA-KURA

“Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam” (Amsal 12:10)

Saat doa pagi, Donny Prayitno menyinggung kalau dia suka memelihara kura-kura yang umurnya—menurutnya—bisa lebih panjang dari manusia. Benarkah? Benar! Ada kura-kura yang bisa berumur sampai 200 tahun. Biar nanti cucu Donny yang melanjutkan pemeliharaannya.

Saat membaca tugas untuk membuat renungan, ayat yang sama memberikan "back up" Alkitab. Jadi, karena mengaku memelihara kura-kura dengan baik, berarti Donny orang benar. Saya pun pernah punya kura-kura. Saat ada undangan khotbah di New York dan Vancouver, kura-kura itu saya titipkan ke sopir saya. Dia menelpon dan memberitahu kalau kura-kuranya mati. Bukan berarti sopir saya orang fasik, tetapi mungkin stress memasuki lingkungan baru.

Saya menafsirkan ayat itu seperti ini. Jika kepada binatang saja seseorang bisa begitu memperhatikannya, berarti kepada sesama akan jauh lebih baik. Ayat ini begitu menarik karena selanjutnya tertulis “tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam.” Kok bisa ada belas kasihan yang kejam?

Belas kasihan yang disertai prasyarat. “Kalau engkau kerja dengan benar, ijazahmu saya kembalikan. Jika tidak, ijazahmu saya tahan.” Bukankah ada perusahaan-perusahaan yang menahan ijazah karyawannya. Akibatnya, kalau mereka tidak kerasan—oleh berbagai faktor—mereka tidak bisa pindah ke tempat lain. Sandera semacam ini memang kejam. Hal ini tidak mengingkari ada karyawan yang ‘mbeling’.

Namun, jika karyawan sudah bekerja dengan baik, tetapi bosnya tetap menahan ijazahnya, artinya dia memang seakan-akan saja menunjukkan belas kasihan, namun faktanya kejam. Hanya Tuhan yang bisa melihat hati seseorang. Orang yang curigaan terhadap orang lain, biasanya memang perlu dicurigai ketulusannya. (XQP).

Doa: Bapa, ajar aku untuk berbelaskasihan kepada sesama makhluk hidup dan menjaga alam agar layak dihuni.

Share