preloader
  Back   

TEDUH DI TENGAH DUNIA YANG GADUH

(Filipi 4:2–7) 

Kita hidup di dunia yang semakin gaduh. Berita, media sosial, pekerjaan, ekonomi, bahkan relasi dapat menghadirkan tekanan yang terus-menerus. Namun kegaduhan terbesar sering kali bukan yang terjadi di luar diri kita, melainkan yang akhirnya memenuhi hati dan pikiran kita. Menariknya, Paulus menulis Filipi 4:2–7 bukan kepada orang-orang yang sedang hidup tanpa masalah. Ada konflik di antara Euodia dan Sintikhe, ada tekanan yang dihadapi jemaat, dan ada kekhawatiran yang mengancam hati mereka. Di tengah semua itu, Paulus menunjukkan bagaimana orang percaya dapat tetap teduh.

Pertama, teduh di tengah relasi yang gaduh (ay. 2-3). Paulus menasihati Euodia dan Sintikhe agar “sehati sepikir dalam Tuhan” (ay. 2). Menariknya, Paulus tidak menjelaskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia justru mengarahkan mereka kembali kepada pusat yang sama: Tuhan.

Paulus juga meminta seorang yang disebut "Sunsugos" (ay. 2), yang secara harfiah dapat dipahami sebagai “rekan se-kuk”, untuk menolong mereka. Gambaran ini indah: mereka mungkin tidak selalu memiliki pendapat yang sama, tetapi mereka dipanggil untuk tetap berjalan bersama di bawah Tuhan yang sama.

Kesatuan bukan berarti selalu sepakat dalam segala hal. Kesatuan berarti tetap berjalan menuju arah yang sama karena kita tunduk kepada Tuhan yang sama, yakni Yesus. Jadi ketika relasi menjadi gaduh, jangan biarkan konflik membuat kita kehilangan kasih, pengampunan, dan persekutuan.

Kedua, teduh di tengah situasi yang gaduh (ay. 4-5). Paulus kemudian berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” (ay. 4). Mengapa? Karena situasi mereka tidak sedang baik-baik saja. Namun dasar sukacita mereka bukan keadaan, melainkan Tuhan. 

Kemudian Paulus berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan itu dekat!” (ay. 5). Ungkapan “Tuhan itu dekat” dapat dipahami secara kaya. Tuhan dekat dalam kehadiran-Nya; Ia tidak jauh dari pergumulan kita. Tuhan dekat dalam pertolongan-Nya; Ia mendengar ketika kita berseru. Dan Tuhan dekat dalam kedatangan-Nya; Ia akan datang dan menyelesaikan segala sesuatu pada waktunya. Karena itu, kita tidak selalu harus membalas, mengendalikan, atau memenangkan segala sesuatu. Tuhan dekat.

Ketiga, gaduh di tengah hati yang gaduh (ay. 6-7). Paulus kemudian menyentuh sumber kegaduhan yang paling dalam: kekhawatiran. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,” katanya. Tetapi Paulus tidak sekadar berkata, “Jangan kuatir.” Ia memberikan jalan keluarnya: “Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (ay. 6).

Kekhawatiran dibawa kepada Allah dalam doa. Dan hasilnya bukan selalu perubahan keadaan, tetapi sesuatu yang lebih dalam: “Damai sejahtera Allah... akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (ay. 7).

Allah tidak selalu  langsung mengubah keadaan yang gaduh, tetapi Ia sanggup menjaga hati kita di tengah keadaan itu. Karena itu, teduh bukan berarti hidup tanpa masalah. Teduh berarti kita tahu bahwa di tengah semua masalah, Tuhan itu dekat.

Ketika relasi gaduh, Tuhan hadir. Ketika situasi gaduh, Tuhan menolong. Ketika hati gaduh, Tuhan mendengar. Dan ketika dunia terasa tidak adil, Tuhan akan datang.

Dunia boleh gaduh, tetapi kita tidak perlu ikut menjadi gaduh. Sebab Tuhan itu dekat. Amen. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita semua. (YAS)

Share