preloader
  Back   

JANGAN HANYA MENGUAP: BANGUNLAH LADANGMU!

“Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. ….Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring, maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata” (Amsal 24:30–34)

Pernahkah kita berjalan-jalan di lingkungan sekitar dan melihat rumah yang berpenghuni dengan keadaan catnya mengelupas, pagar roboh, halaman penuh sampah? Hati kita pasti berkata, "Wah, pemiliknya pasti malas." Amsal ini mengajak kita melihat ladang si pemalas — bukan sekadar soal bertani, tapi soal sikap hati menghadapi tanggung jawab.

Kata "pemalas" ('atsel') dalam bahasa Ibrani berarti orang yang suka menunda, membiarkan waktu berlalu tanpa tindakan. "Tidak berakal budi" bukan soal IQ rendah, tapi orang yang menolak nasihat hikmat. Ladangnya ditumbuhi onak dan duri — tanaman liar yang tak berguna. Tembok batu roboh — artinya tidak ada perbaikan. Kata "sebentar lagi" diulang tiga kali, menggambarkan orang yang terus berkata, "Nanti saja, santai dulu."

Di zaman Israel kuno, ladang adalah sumber kehidupan. Bagi petani, membiarkan ladang terbengkalai berarti kelaparan. Tembok batu berfungsi menahan hewan liar dan pencuri. Jika roboh, semua usaha sia-sia. Salomo melihat pemandangan ini sebagai metafora nyata dari kehidupan yang hancur karena kelalaian.

Tuhan adalah Allah yang bekerja (Kejadian 2:2) dan memerintahkan manusia mengelola bumi. Kemalasan bukan hanya masalah pribadi, tapi dosa sosial — karena membebani orang lain dan tidak memuliakan Pencipta. Amsal 24:23–25 sebelumnya juga menekankan keadilan: jangan memihak dalam menghakimi. Artinya, hidup berhikmat meliputi kerja keras dan keadilan.

Aplikasi Praktis untuk keseharian kita
Periksa "ladang" kita hari ini. Apa yang sudah lama kita abaikan? Pekerjaan yang tertunda, hubungan yang renggang, kesehatan yang tidak dijaga, atau waktu rohani yang kosong? Jangan biarkan "onak" tumbuh.

Lawan kebiasaan "tidur sebentar lagi". Bangun 15 menit lebih awal untuk berdoa dan merencanakan hari. Jangan tunda pekerjaan kecil seperti membereskan meja atau membalas pesan penting. 

Kemiskikan (uang, waktu, relasi) datang diam-diam seperti perampok.
Perbaiki "tembok yang roboh" dalam hidup kita. Mungkin itu janji yang belum ditepati, utang yang belum dibayar, atau maaf yang belum diminta. Tembok perlindungan keluarga bisa roboh karena sikap cuek.

Terapkan keadilan dalam hal kecil. Ayat 23–24 mengingatkan: jangan membela orang bersalah hanya karena dia kaya atau teman. Di kantor, di pasar, di RT, bersikaplah adil. Itu bagian dari hikmat sejati.

Hikmat Itu Bangun, Bukan Tidur
Allah tidak menciptakan kita untuk menjadi penonton dalam hidup. Setiap hari adalah ladang yang Tuhan titipkan. Jika tembok kita roboh, bangun kembali. Jika onak tumbuh, cabut sekarang juga. Ingatlah Yesus yang berkata, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, dan Aku pun bekerja" (Yohanes 5:17). Kerajinan adalah pintu masuk bagi berkat dan damai.

Mari berdoa:
"Tuhan, ampunilah kami yang sering memilih berbaring daripada membangun. Beri kami semangat untuk merawat ladang kehidupan yang Kau titipkan. Tolong kami berlaku adil, rajin, dan tidak menunda-nunda. Dalam nama Yesus yang bekerja untuk keselamatan kami, Amin". (SDK)

Share