preloader
  Back   

PELAYANAN SEJATI BUKAN SOAL POSISI TETAPI SOAL HATI

“... tidaklah patut kami meninggalkan pelayanan firman Allah untuk melayani meja.. pilihlah tujuh orang ..yang penuh Roh dan hikmat..supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman" (Kisah Rasul  6:2-4)

       Dalam dunia yang sering tidak adil dan penuh persaingan, Tuhan memanggil kita menjadi pelayan yang tidak hanya cakap secara fungsional, namun juga berwibawa secara rohani. Dalam dunia pelayananan rohani, pelayanan sejati bukan soal  jabatan atau posisi tetapi menyangkut soal hati. Adakah hati yang di penuhi oleh Roh Kudus untuk melakukan pelayanan apa pun bentuknya dan jenisnya  dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan motivasi yang murni dan benar di hadapan Allah?

        Seringkali dalam kesibukan pelayanan gereja hanya disibukkan dengan urusan pelayanan mimbar atau  firman saja dan mengabaikan pelayanan soisal. Masalah  ini terjadi pula pada gereja mula-mula. Di saat jemaat  bertumbuh pesat maka ada hal yang mereka abaikan yaitu pelayanan meja kepada janda-janda yang berkekurangan, hal ini menimbulkan sunggut-sunggut di antara orang-orang  golongan Hellenis. Ayat 1 mengatakan: “Pada masa itu, ketika jumlah murid-murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yunani terhadap  orang-orang Ibrani karena pembagian kepada janda-janda mereka abaikan dalam pelayanan sehari-hari.”

        Saat jemaat Tuhan berkembang pesat, terjadi konflik internal antara orang-orang Yunani golongan Helenis dan orang Yahudi lokal Palestina. Orang2 golongan Helenis adalah orang-orang Yahudi diaspora, yang tinggal di luar Palestina, berbahasa Yunani. Sedangkan orang-orang Yahudi lokal Palestina adalah mereka yang berbahsa Ibrani atau Aram. 

        Para rasul memberi pembagian tugas penatalayanan dengan memilih tujuh orang yang diberi tanggung jawab mengurusi soal pelayanan meja. Itu merupakan pelayanan bagi  para janda atau orang-orang miskin. Maka dipilihlah ketujuh orang sebagai pengemban tugas pelayanan meja dengan kriteria orang-orang  yang bereputasi baik, penuh dengan Roh Kudus dan hikmat. Penunjukan bukan hanya pada orang  yang sekadar mampu bekerja, namun lebih pada motivasi  dan kemurnian hati, orang-orang yang tidak ambisius akan posisi atau jabatan pelayanan rohani. 

       Salah satu pribadi yang ditulis menjadi sorotan khusus karena menjadi tokoh penting yang selanjutnya menjadi martir pertama adalah Stefanus. Dia adalah  seorang yang penuh kasih karunia dan kuasa melakukan mukzijat. Stefanus bukan hanya sebagai pelayan meja yang baik namun juga sebagai pengkothbah dan penginjil yang kuat. Bahkan di saat dia di fitnah dan terancam nyawanya pun, ia tetap pada iman  dan pelayanannya. Ia tidak goyah , bahkan saat menghadapi rajaman batu oleh tokoh-tokoh agama yang iri hati  kepadanya. Tanpa ketakutan, ia menghadapinya. Bahkan menjadi kesaksian, wajahnya nampak seperti seorang  malaikat, wajah kedamaian, dan kehadiran illahi terhadapnya. 

Pelayanan meja atau sosial tidak menghambat karunia rohani dinyatakan oleh kuasa Roh Kudus. Pelayan meja atau sosial tidaklah lebih remeh dibandingkan dengan pelayanan mimbar. Justru di ayat berikutnya, dikatakan  sejak diadakan pelayanan meja oleh ketujuh orang tersebut, maka Tuhan makin menambahkan jumlah orang –orang  yang bertobat. Dalam ayat 7 dikatakan, bahwa "Firman Tuhan makin tersebar dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak...".

        Jadi pentingnya gereja memperhatikan penatalayanan meja atau sosial bagi kaum miskin untuk dilayani dengan baik. Tidak ada pelayanan yang baik kecuali pelayanan yang di lakukan dengan hati yang terbaik. Pelayanan bukan lah soal posisi, namun soal hati, Amin. (B.E)

Share