Back   
ALLAH YANG MEMBANGUN KEMBALI
(Mazmur 78:56–72)
Ada masa ketika sesuatu yang kita anggap kokoh ternyata runtuh. Hubungan rusak, keluarga mengalami masalah, pelayanan kehilangan arah, pekerjaan tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan kehidupan rohani terasa jauh dari Tuhan.
Dalam pembacaan HBC kita hari ini, Mazmur 78:56–72 membawa kita kepada sebuah kenyataan penting bahwa keruntuhan manusia tidak pernah berarti berakhirnya pekerjaan Allah.
Israel telah mengalami begitu banyak pertolongan Tuhan, tetapi mereka tetap saja memberontak. Mereka melupakan perbuatan-Nya dan berpaling kepada allah-allah lain. Akibatnya, Tuhan membiarkan mereka mengalami konsekuensi dari ketidaksetiaan mereka. Bahkan Silo, tempat yang selama ini menjadi pusat kehidupan keagamaan Israel, ditinggalkan-Nya (ay. 60). Tabut perjanjian pun jatuh ke tangan musuh.
Namun cerita tidak berhenti di sana. Ayat 65 menggambarkan Tuhan seperti seorang pahlawan yang bangun dari tidur. Gambaran ini bukan berarti Allah benar-benar tertidur, melainkan menunjukkan bahwa ketika manusia melihat seolah-olah Tuhan diam, Allah tetap memegang kendali atas sejarah. Ia bangkit dan bertindak.
Menariknya, ketika Allah membangun kembali, Ia tidak sekadar memperbaiki apa yang rusak. Ia melakukan sesuatu yang baru. Ia menolak kemah Yusuf dan memilih Yehuda. Ia memilih Sion. Kemudian Ia memilih Daud dari kandang domba untuk menggembalakan umat-Nya (ay. 67–71).
Di sinilah kita melihat karakter Allah: Allah bukan hanya Allah yang mengampuni masa lalu. Dia juga Allah yang membangun masa depan.
Daud kemudian digambarkan menggembalakan umat dengan “ketulusan hatinya” dan “kecakapan tangannya” (ay. 72). Allah membangun kembali umat melalui seorang gembala yang memiliki hati dan kemampuan.
Implikasi bagi kita: Kisah perjalanan bangsa Israel dalam Mazmur ini, memberikan implikasi penting bagi kita orang percaya.
Pertama, jangan menganggap kegagalan sebagai akhir cerita. Mungkin ada bagian hidup kita yang sedang runtuh, tetapi percaya Tuhan masih dapat membangun kembali sesuatu yang baru.
Kedua, jangan hanya meminta Tuhan memperbaiki keadaan tapi izinkan Tuhan memperbaiki hati kita. Israel bukan hanya membutuhkan keadaan yang lebih baik, tetapi membutuhkan hati yang kembali kepada Allah.
Ketiga, jadilah bagian dari pekerjaan Allah dalam membangun kembali. Seperti Daud, kita dipanggil bukan hanya memiliki hati yang tulus, tetapi juga tangan yang terampil. Di keluarga, gereja, pekerjaan, dan komunitas, kita dipanggil menjadi orang yang membawa pemulihan.
Karena itu, ketika hidup terasa berantakan, jangan hanya melihat apa yang telah runtuh. Lihatlah Allah yang masih bekerja. Allah yang sama yang bangkit dalam Mazmur 78 masih sanggup membangun kembali kehidupan yang hancur dengan cara-Nya, pada waktu-Nya, dan untuk tujuan-Nya, Amen. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita semua. (YAS)