preloader
  Back   

TEPATI NAZARMU

"Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu" (Pengkhotbah 5:4)

Dalam kehidupan sehari-hari, janji sering kali mudah diucapkan tetapi sulit untuk ditepati. Kita dapat berjanji kepada orang lain ketika sedang membutuhkan pertolongan, berjanji kepada Tuhan ketika sedang menghadapi masalah, atau bernazar ketika menginginkan sesuatu. Namun, setelah keadaan berubah dan persoalan berlalu, tidak jarang janji tersebut dilupakan. 

Pengkhotbah 5:4 berkata, “Apabila engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak berkenan kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.” Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perkataan yang kita sampaikan kepada Tuhan harus lahir dari kesungguhan hati dan disertai tanggung jawab.

Dalam konteksnya, Pengkhotbah sedang mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya bersikap ketika datang kepada Allah. Nazar merupakan suatu janji khusus yang diberikan kepada Tuhan sebagai ungkapan komitmen atau ucapan syukur. Karena itu, ketika seseorang bernazar, ia tidak boleh menganggapnya sebagai perkataan biasa. Tuhan adalah Allah yang kudus dan layak menerima penghormatan melalui kesetiaan umat-Nya. Pengkhotbah menegaskan bahwa menunda-nunda memenuhi nazar menunjukkan ketidakseriusan terhadap Allah. Masalahnya bukan sekadar apakah seseorang mampu memenuhi janjinya, tetapi apakah ia menghargai perkataan yang telah diucapkannya di hadapan Tuhan. 

Allah menghendaki integritas: perkataan dan perbuatan harus berjalan bersama. Iman yang benar tidak hanya terlihat dalam apa yang kita katakan kepada Tuhan, tetapi juga dalam kesetiaan kita melakukan apa yang telah kita katakan.

Firman Tuhan mengajak kita untuk memeriksa kembali komitmen yang pernah kita ucapkan kepada-Nya. Apakah kita pernah berjanji untuk lebih setia berdoa, melayani, memberi, mengampuni, atau hidup dalam ketaatan, tetapi kemudian melupakannya? Jangan menunda ketaatan. Jika Tuhan telah mengingatkan kita tentang sesuatu yang harus dilakukan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. 

Belajarlah juga untuk tidak sembarangan membuat janji kepada Tuhan hanya karena sedang berada dalam tekanan. Lebih baik sedikit berbicara tetapi sungguh-sungguh melakukannya daripada banyak berjanji tetapi tidak menepatinya. Tuhan menghargai hati yang berintegritas. Karena itu, biarlah setiap perkataan kita kepada Tuhan menjadi komitmen yang benar-benar kita hidupi. (YS)

Share