Back   
DENGAR, HIKMAT MEMANGGIL!
"Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya?" (Amsal 8:1)
Di tengah hiruk-pikuk media sosial sobat HBC saat ini—di antara video lucu, berita panas, dan promo belanja—masih adakah suara yang benar-benar layak didengar? Salomo, penulis Amsal, melukiskan hikmat bukan sebagai rahasia tersembunyi, melainkan sebagai perempuan yang berseru di tempat umum: di tempat yang tinggi, persimpangan jalan, samping pintu gerbang kota (ayat 2-3). Secara historis: gerbang kota adalah pusat hukum dan perdagangan Israel kuno, tempat para tua-tua memutuskan perkara. Hikmat tidak berbisik di ruang tertutup; ia berteriak di pusat kehidupan!
Kata "hikmat" dalam bahasa Ibrani berbentuk feminin, sehingga digambarkan sebagai "dia" yang aktif mencari pendengar. Kata "berseru" menunjukkan kegelisahan yang penuh gairah—hikmat tidak mau diabaikan. Perhatikan siapa yang dipanggil: "orang tak berpengalaman" (polos, mudah terpengaruh) dan "orang bebal" (keras kepala, suka salah). Hikmat datang bukan hanya untuk orang pintar, tapi untuk semua—terutama yang paling butuh ditolong.
Secara kontekstual, Amsal 8 ini berdiri sebagai perlawanan terhadap "perempuan asing" di Amsal 7 yang menggoda dengan kata-kata manis. Hikmat sejati tidak pernah memaksa, tapi ia terus memanggil dengan jujur. Amsal 8:8–9 menegaskan bahwa semua perkataan hikmat adalah keadilan—tidak ada yang belat-belit atau serong. Ini berbeda dengan nasihat dunia yang sering manipulatif.
Secara teologis, ayat 10–11 mengajarkan bahwa hikmat lebih berharga dari perak, emas, bahkan permata. Dan ayat 12: "Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan." Hikmat bukan sekadar pengetahuan, melainkan hidup dalam relasi dengan Allah. Takut akan Tuhan adalah awal pengetahuan (Amsal 1:7). Maka, mendengar hikmat berarti mendengar suara Allah sendiri.
Yang dapat kita lakukan:
Di antara notifikasi: Sebelum membuka HP di pagi hari, berdiamlah sejenak. Tanyakan: "Suara hikmat mana yang sedang Tuhan panggil untuk kudengar hari ini?" Mungkin suara untuk memaafkan, untuk berhenti membandingkan diri, atau untuk berkata jujur.
Di persimpangan keputusan: Ketika kita bingung memilih—entah soal kerja, relasi, atau keuangan—jangan hanya ikut emosi atau tren. Bayangkan hikmat berdiri di samping kita dan bertanya, "Apakah keputusan ini membawa damai dan kebenaran?"
Berani menjadi "pengeras suara" hikmat: Hikmat tidak sembunyi. Kita dapat membagikan kata-kata bijak Alkitab dengan cara yang baik di status WhatsApp atau unggahan FB/IG. Bukan untuk menggurui, tapi mengundang.
Hikmat tidak pernah berbisik. Ia berseru. Tapi telinga kita yang sering sibuk memilih suara yang enak didengar. Hari ini, mari kita berhenti sejenak. Dengarkan. Lalu bertindak. Suara-Nya menanti Anda! (SDK)