Back   
KABAR BURUK YANG MELAHIRKAN DOA
Kitab Nehemia dibuka dengan sebuah kabar yang menghancurkan hati. Nehemia, seorang juru minuman raja di istana Susan, menerima laporan tentang keadaan Yerusalem: tembok kota telah runtuh, pintu gerbangnya terbakar, dan sisa-sisa orang buangan hidup dalam kesusahan. Dari pasal pembuka ini, terdapat tiga pelajaran penting bagi kita.
Pertama: Kepedulian sejati lahir dari keterlibatan hati. Nehemia tidak menerima kabar itu dengan acuh tak acuh. Ia duduk menangis, berkabung selama beberapa hari, bahkan berpuasa (ayat 4). Responsnya menunjukkan bahwa ia memiliki kepedulian sejati terhadap umat Tuhan dan bukan sekadar meningar informasi yang menyedihkan. Sebelum menjadi agen perubahan, Nehemia terlebih dahulu menjadi orang yang memiliki beban.
Kedua: Doa adalah langkah pertama, bukan langkah terakhir. Ketika menghadapi persoalan besar, Nehemia tidak langsung merancang strategi atau segera bertindak mencari jalan keluar. Ia berdoa terlebih dahulu selama berhari-hari (ayat 4-11). Doa mendahului rencananya untuk berbicara kepada raja Artahsasta. Ini menegaskan prinsip bahwa tindakan yang bijak lahir dari hati yang berdoa dan berserah kepada Tuhan.
Ketiga: Pengakuan dosa membuka jalan pemuliohan. Doa Nehemia bukan sekadar permohonan, melainkan diawali dengan pengakuan dosa, pertama-tama dosanya sendiri dan kemudian dosa bangsanya (ayat 6-7). Namun pengakuan itu tidak berhenti pada penyesalan; Nehemia kemudian mengingat kembali janji Tuhan kepada Musa, bahwa jika umat-Nya berbalik kepada-Nya, Ia akan mengumpulkan mereka kembali (ayat 8-9). Pengakuan dosa yang jujur, jika dipadukan dengan iman pada janji Tuhan, akan melahirkan pengharapan yang kokoh.
Nehemia 1 mengajarkan bahwa pemulihan besar sering kali dimulai dari hati yang hancur, doa yang tekun, dan iman yang berpegang teguh pada firman Tuhan, AMIN (ES)