preloader
  Back   

CELAH

"Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya, ia tidak menyimpang dari padanya, dan melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan. Bangsa itu belum mengarahkan hatinya kepada Allah nenek moyang mereka" (2 Tawarikh 20:32-33)

Ayat di atas adalah kisah dari raja Yosafat yang mengalami pertolongan Tuhan ketka menghadapi musuh yang besar. Ia ketakutan lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan, ia juga menyerukan kepada bangsanya yaitu Yehuda untuk berpuasa. Mereka bersama-sama meminta pertolongan Tuhan. Di dalam situasi genting ini Tuhan mendengarkan seruan mereka dan menolong, Tuhan sendiri yang berperang bagi mereka dimana bangsa yang akan menyerang mereka saling membunuh. Raja Yosafat dan bangsa Yehuda tinggal mengambil jarahan yang sangat banyak tanpa harus ikut berperang, atas hal ini mereka memuji Tuhan. Raja Yosafat juga tidak menyembah berhala atau mencari Baal-baal, hal yang berkenan di hadapan Tuhan.

Namun dibalik kesetiaannya kepada Tuhan, raja Yosafat masih mengizinkan adanya sebagian bukit-bukit pengorbanan (tempat penyembahan berhala) karena dipertahankan oleh rakyatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Yehuda belum mengarahkan hatinya sepenuhnya kepada Tuhan. Kemudian ia juga bersekutu dengan raja Ahazia dari Israel yang fasik perbuatannya untuk perdagangan. Hal ini membuat Tuhan murka dan menghancurkan proyek mereka. Raja Yosafat membuka celah di dalam kesetiannya kepada Tuhan.

Perjalanan iman kita kepada Tuhan tentunya tidak terlepas dari situasi dan tawaran dunia yang menggiurkan yang dapat membuat kita berpaling dari-Nya. Untuk itu kita harus selalu mawas diri. Kita bisa saja merasa sungkan untuk berbisnis yang sesuai dengan firman Tuhan karena hubungan baik dengan relasi atau kebiasaan-kebiasaan yang dapat memperlancar usaha. Atau juga masih memaklumi bila ada keluarga yang masih memakai tradisi yang bertentangan dengan firman-Nya dan meminta kita untuk menerapkannya. Hal-hal seperti ini akan menjadi celah bagi kita bisa menjauh dari Tuhan. Secara perlahan prinsip-prinsip non Alkitabiah akan merasuki pikiran kita dan terjadi kompromi. Orang jatuh tersandung bukan karena batu yang besar tetapi kerikil yang kecil karena tidak terlihat dan diperhitungkan.

Kesetiaan dalam mengikut Tuhan hendaklah jangan dilakukan dengan setengah hati karena malah dapat membuat kita tidak mengenal Dia dan menjauh dari-Nya. Jangan suam-suam kuku karena akan dimuntahkan oleh Tuhan (Wahyu 3:16). Mengikut Tuhan kita lakukan dengan segenap hati, jangan membuka celah karena akan menjauhkan kita dari Tuhan dan rencanaNya. Buanglah jauh-jauh bukit pengorbanan dan jangan berkompromi dengan kefasikan, maka Tuhan akan menganugerahkan keamanan dan damai sejahtera. (AD)

Share