preloader
  Back   

BELAJAR DARI ESTER

Di tengah kerajaan Persia yang megah, ada satu momen yang menentukan sejarah bangsa Israel. Haman telah merancang pemusnahan terhadap orang Yahudi, dan satu-satunya harapan berada di tangan seorang ratu muda bernama Ester. 

Kitab Ester pasal 4 bukan sekadar catatan sejarah, tetapi cermin bagi kita yang sering dipanggil untuk bertindak justru ketika kita merasa belum siap. Dalam pasal ini kita belajar: 

Perrama, Panggilan Tuhan seringkali datang dengan risikonya. Mordekhai mengoyakkan pakaiannya dan berkabung di depan pintu gerbang istana (Ester 4:1-2), memaksa Ester menghadapi kenyataan pahit bangsanya. Ester tidak dipanggil untuk mencari jalan aman. Panggilan ini menuntutnya untuk masuk menghadap raja tanpa undangan dengan risiko kematian (ayat 11). Iman yang sejati tidak menuntut kondisi ideal; tapi melangkah di tengah ketidakpastian. 

Kedua, Posisi kita bukan kebetulanm  
Perkataan Mordekhai kepada Ester menjadi salah satu ayat paling dikenang dalam Alkitab: "Siapa tahu, justru untuk saat yang seperti inilah engkau beroleh kedudukan sebagai ratu" (Ester 4:14). Kalimat ini mengingatkan kita bahwa setiap posisi, jabatan, atau kesempatan yang kita miliki hari ini bukanlah kebetulan. Tuhan menempatkan kita di tempat tertentu, pada waktu tertentu, untuk tujuan yang mungkin baru kita pahami belakangan.
 
Ketiga, Keberanian iman lahir dari kerendahan hati dan komunitas. 
Ester tidak melangkah sendirian. Ia meminta seluruh umat berpuasa bersamanya selama tiga hari (ayat 15-16) sebelum akhirnya berkata, "Jika aku harus binasa, biarlah aku binasa." Ini bukan keberanian yang buta, melainkan keberanian yang lahir dari doa, kerendahan hati, dan dukungan komunitas iman. 

Ester 4 mengajak kita bertanya: di mana Tuhan telah menempatkan kita hari ini, dan apakah kita berani bertindak meski harus mempertaruhkan sesuatu? Sebab siapa tahu, justru untuk saat seperti inilah kita berada di sini, AMIN. (ES)

Share