preloader
  Back   

SEHATI DAN SALING BERBAGI

"Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama" (Kisah Para Rasul 4:32)

Kisah Para Rasul 4:32-37 menggambarkan jemaat mula‑mula yang hidup dalam persatuan dan kasih. Mereka tidak hanya beribadah bersama, tetapi benar‑benar berbagi hidup. Harta benda tidak lagi dianggap milik pribadi, melainkan dipakai untuk kepentingan bersama. Kuasa Roh Kudus membuat mereka rela menanggalkan ego dan kepentingan diri, sehingga lahir kehidupan yang sehati dan sejiwa.

Kasih Kristus mengubah cara pandang mereka terhadap kepemilikan. Dunia mengajarkan bahwa harta adalah sumber keamanan, tetapi jemaat mula‑mula membuktikan bahwa kasih dan persatuan jauh lebih berharga. Mereka rela menjual tanah atau rumah dan menyerahkan hasilnya kepada para rasul untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Sikap ini lahir bukan karena paksaan, melainkan karena hati mereka dipenuhi kasih Allah.

Ilustrasi sederhana dapat kita lihat dalam sebuah tim sepak bola. Jika setiap pemain hanya mementingkan dirinya sendiri, tim akan kalah. Tetapi jika semua pemain sehati dan sejiwa, saling mendukung dan berbagi peran, maka tim itu akan menang. Demikian pula jemaat mula‑mula, mereka bersatu dalam kasih Kristus sehingga kuasa Tuhan nyata di tengah mereka.

Bayangkan seorang petani yang memiliki panen melimpah. Ia tidak menyimpannya hanya untuk dirinya, tetapi membagikan sebagian kepada tetangganya yang kekurangan. Dengan tindakan itu, ia menumbuhkan persaudaraan dan kepercayaan. Begitu pula jemaat mula‑mula, mereka memberi bukan karena berlebih, tetapi karena hati mereka penuh kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat meneladani kehidupan jemaat mula-mula dengan cara sederhana namun nyata. 

Yang pertama, kita bisa berbagi waktu dengan orang lain. Meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan atau cerita seseorang adalah bentuk kasih yang sederhana namun sangat berarti. 

Kedua, kita bisa berbagi perhatian melalui doa. Mendoakan mereka yang sakit atau sedang dalam kesulitan menunjukkan bahwa kita peduli, sekalipun tidak selalu bisa hadir secara fisik.

Ketiga, kita bisa berbagi berkat materi sesuai kemampuan. Tidak harus besar, tetapi ketulusan hati dalam memberi akan membuat orang lain merasakan kasih Kristus yang nyata. 

Dan yang keempat, kita bisa berbagi talenta dan kemampuan. Mengajar anak‑anak di sekolah minggu, membantu tetangga memperbaiki sesuatu, atau memberi nasihat yang membangun adalah cara praktis untuk hidup sehati dan sejiwa.

Dengan langkah‑langkah sederhana ini, kita sedang membangun gereja yang kuat bukan karena harta, tetapi karena kasih dan persatuan. Dunia akan melihat kesaksian yang hidup ketika jemaat Tuhan benar‑benar menjadi keluarga rohani yang saling menopang.

Sahabat HBC yang Tuhan Yesus kasihi, marilah kita belajar dari jemaat mula‑mula untuk hidup sehati dan sejiwa. Jangan biarkan ego dan kepentingan pribadi menghalangi kasih Kristus. Jadilah pribadi yang rela berbagi, baik dalam hal materi, waktu, perhatian, maupun talenta. Dengan demikian, kita akan menjadi jemaat yang kuat dan menjadi terang bagi dunia yang haus akan kasih sejati….tetap semangat dan Tuhan Yesus memberkati. (DSP)

Share