preloader
  Back   

BAHAYA MEMANJAKAN

“Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala” (Amsal‬ ‭29‬:‭21‬)‬‬

Ayat ini singkat, namun sarat makna. Dalam konteks aslinya, penulis Amsal berbicara tentang relasi antara tuan dan hamba pada zaman kuno. Namun prinsip di baliknya jauh melampaui konteks itu, dan tetap relevan bagi kita hari ini, terutama dalam relasi orang tua dan anak, pemimpin dan bawahan, bahkan guru dan murid.

Kata "memanjakan" di sini bukan berbicara tentang kasih sayang yang wajar. Kasih sayang adalah hal yang baik dan Alkitabiah. Yang dimaksud Amsal adalah pola asuh atau pola kepemimpinan yang tidak pernah memberi batasan, tidak pernah menegur, dan selalu memenuhi setiap keinginan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Hasilnya bukanlah pribadi yang tumbuh dengan rasa syukur, melainkan pribadi yang keras kepala, sulit menerima otoritas, sulit dikoreksi, dan cenderung menuntut.

Prinsip ini sangat penting bagi kita yang berperan sebagai orang tua. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kasih yang sejati justru berani berkata "tidak" ketika diperlukan. Disiplin yang konsisten adalah wujud kasih yang membentuk karakter. Amsal 13:24 melengkapi pemikiran ini dengan menyatakan bahwa siapa yang mengasihi anaknya, menghajarnya pada waktunya.

Sebagai orang percaya, kita juga bisa merenungkan bagaimana Tuhan memperlakukan kita. Ibrani 12:6 mengatakan bahwa Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya. Disiplin Tuhan bukan tanda kemarahan, melainkan tanda bahwa kita adalah anak-anak-Nya yang sungguh dikasihi dan sedang dibentuk menuju kedewasaan iman.

Amsal 29:21 mengajak kita untuk mengevaluasi ulang cara kita mengasihi, apakah kasih kita membentuk karakter, atau justru memanjakan hingga melahirkan pribadi yang keras kepala. Kasih yang sejati selalu punya batasan, dan batasan itulah yang justru menyelamatkan. (ES)

Share