Back   
KEMBALI PADA TUHAN
"Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN" (Yesaya 55:7-8)
Allah memanggil orang yang jauh untuk kembali kepada-Nya, meninggalkan jalan hidup yang salah, dan menerima pengampunan-Nya. Karena itu, ayat 7–8 memperlihatkan dua sisi penting dari respon manusia kepada Allah: pertobatan dan kepercayaan. Manusia harus meninggalkan jalannya yang salah dan kembali kepada Tuhan, tetapi setelah kembali kepada-Nya, manusia juga harus belajar mempercayai bahwa jalan dan rancangan Allah jauh lebih tinggi daripada pemikiran manusia. Dari bagian ini kita melihat bahwa Tuhan bukan hanya memanggil kita untuk meninggalkan jalan yang salah, tetapi juga mengajar kita untuk mempercayai jalan yang Ia tentukan.
Pertama, Tinggalkan jalan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Firman Tuhan berkata, “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya.” Pertobatan bukan sekadar merasa bersalah, tetapi meninggalkan jalan hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah. Tuhan menghendaki perubahan arah—dari jalan kita kembali kepada jalan-Nya. Tidak mungkin seseorang sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan tetapi tetap mempertahankan kehidupan lama yang menjauhkannya dari Tuhan.
Kedua, Kembalilah kepada Tuhan karena Ia penuh pengampunan. Allah berkata, “baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya.” Ini menunjukkan hati Allah yang penuh belas kasihan. Tuhan tidak hanya memerintahkan manusia untuk bertobat, tetapi juga membuka jalan untuk kembali. Bahkan dikatakan bahwa Ia “memberi pengampunan dengan limpahnya.” Pengampunan Allah tidak diberikan karena manusia layak menerimanya, tetapi karena kasih karunia-Nya. Karena itu, jangan merasa terlalu jauh untuk kembali kepada Tuhan. Selama Tuhan memanggil, selalu ada jalan untuk kembali.
Ketifa, Percayalah bahwa rancangan Tuhan lebih tinggi. Tuhan berkata, “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” Ayat ini tidak berarti bahwa manusia tidak boleh memiliki rencana. Namun ketika rencana kita berbeda dengan kehendak Tuhan, kita harus belajar menyerahkan kehendak kita kepada-Nya.
Ada saat ketika kita tidak memahami mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi. Kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan, sementara Tuhan melihat keseluruhannya. Karena itu, iman berarti tetap percaya bahkan ketika kita belum memahami jalan yang sedang Tuhan bawa.
Sebagai aplikasi, Yesaya 55:7–8 mengajak kita untuk meninggalkan jalan yang salah, kembali kepada Tuhan, dan mempercayai jalan-Nya. Jangan biarkan dosa membuat kita semakin jauh dari Tuhan, karena Dia adalah Allah yang penuh kasih dan berlimpah dalam pengampunan. Dan ketika jalan Tuhan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, jangan cepat kecewa—belajarlah percaya bahwa rancangan-Nya lebih tinggi daripada rancangan kita. Kita mungkin tidak selalu memahami jalan Tuhan, tetapi kita dapat selalu mempercayai Tuhan yang menentukan jalan itu, Amin. Tuhan Yesus Memberkati. (SG)