preloader
  Back   

KETIKA YANG KUAT MERANGKUL YANG LEMAH

"Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri" (Roma 15:1)

Ada aturan unik yang tidak tertulis bagi para pendaki gunung: "We go together, we come back together. We don’t leave anyone behind.” Atau pergi pulang bersama-sama, tidak ada yang boleh ditinggal. Mengapa mereka menghidupi hal ini? Karena bagi para pendaki, goalnya bukan hanya sampai ke puncak. Keamanan rekan lebih penting dari kecepatan, ambisi dan pencapaian pribadi. Mereka percaya puncak bisa menunggu dan tidak akan kemana-mana. Sehingga ukuran kesuksesan bukan diukur dari siapa yang sampai ke puncak lebih dulu, tetapi ketika semua orang yang berangkat bisa pulang dengan aman. 

Pelajaranannya adalah orang yang paling kuat dalam tim adalah mereka yang rela memperlambat diri dan menolong mereka yang lemah dan sedang berjuang.

Cerita sederhana ini menggambarkan dengan pesan Rasul Paulus dalam Roma 15:1: "Kita, orang-orang yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang-orang yang tidak kuat, dan janganlah kita mencari kesenangan kita sendiri." Ayat ini tidak berdiri sendiri. Dalam pasal 14, Paulus sedang membahas perselisihan di jemaat Roma antara orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi mengenai makanan dan hari-hari tertentu. Paulus tidak memihak salah satu pendapat, Paulus mengarahkan jemaat pada sikap hati yang lebih dalam: kasih yang rela berkorban demi kesatuan.

Dari konteks ini, ada tiga pokok penting yang bisa kita renungkan bersama.

Pertama: Dewasa rohani bukanlah alasan untuk merasa lebih unggul, melainkan tanggung jawab untuk menanggung sesama yang masih bergumul. "Kuat" di sini bukan gelar kehormatan, tetapi panggilan untuk memikul beban orang lain.

Kedua: Paulus mengarahkan kita pada teladan Kristus sendiri, yang "tidak mencari kesenangan-Nya sendiri" (ay. 3), bahkan rela menanggung penghinaan demi keselamatan orang lain. Inilah standar tertinggi dari kasih yang tidak egois, bukan sekadar toleransi, tetapi pengorbanan.

Ketiga:Tujuan akhirnya bukan sekadar meredam konflik, melainkan membangun sesama (ay. 2) demi kesatuan jemaat yang memuliakan Tuhan "dengan satu hati dan satu suara" (ay. 6). 

Sama seperti etika keren para pendaki Gunung, kadang yang kuat malah harus memikul ransel temannya dan rela menunggu. Kita pun dipanggil bukan untuk menbanggakan siapa yang paling kuat, paling beriman, lebih tahu, atau lebih dewasa. Kita dipanggil bukan untuk melangkah lebih cepat sendirian, melainkan untuk menyesuaikan langkah demi mereka yang masih berjuang. Sebab pada akhirnya, mendaki bersama jauh lebih bermakna daripada sampai di puncak seorang diri. Kalo para pendaki saja mengerti dan menghidupi prinsip ini, masa kita kalah? Atau mungkin saatnya kita mulai belajar mendaki, bagi pemula saya sarankan gunung Penanggungan. (ES)

Share