preloader
  Back   

TRAGEDI DAN PERTOBATAN

Satu hari, ketika sedang mengendarai mobil di jalan tol, tiba-tiba jalanan berubah menjadi macet, ternyata di depan ada kecelakaan mobil yang cukup parah. Beberapa mobil rusak total, yang lain yang penyok di sana sini. Mobil polisi dan kerumunan orang mulai berkumpul. Tiba-tiba ada yang ‘nyeletuk’, “Dosa apa mereka ya, sampai mengalami ini?” Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam narasi tersebut, menghubungkan penderitaan dengan dosa, dan menganggap bahwa hal-hal buruk hanya menimpa orang-orang yang buruk dan banyak dosa. 

Dalam Lukas 13:1-5, Yesus menjawab pemikiran seperti itu: ”Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 

Mari kita melihat beberapa hal dari peristiwa tersebut:

Pertama, Tragedi Bukan Vonis. 
Dalam Lukas 13, ada yang membawa dua berita menyedihkan kepada Yesus: Pilatus telah membantai para penyembah Galilea di depan mezbah, dan sebuah menara di Siloam roboh, menewaskan delapan belas orang. Kerumunan itu mengharapkan Yesus akan meneguhkan pandangan teologi mereka, bahwa memang penderitaan adalah hukuman Tuhan atas dosa pribadi. Tetapi Yesus dengan tegas menolak anggapan tersebut. Ia tidak menjelaskan mengapa tragedi itu terjadi tapi Ia menyatakan bahwa para korban bukanlah orang berdosa yang lebih parah daripada orang lain. Pernyataan Yesus menjadi tamparan terhadap pandangan dunia yang berbasis kemakmuran, yang mengaitkan tragedi sebagai vonis kegagalan rohani.

Kedua, Tragedi Adalah Cermin.
Dua kali dalam lima ayat, Yesus mengalihkan pembicaraan dari para korban langsung kepada pendengar-Nya: “Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian"  (Lukas 13:3) 


Yesus menggunakan peristiwa itu untuk menunjukkan kepeduliannya kepada mereka yang masih hidup. Yesus menggunakan tragedi sebagai cermin, dan bertanya “Apa yang akan kamu lakukan?” Di tangan Yesus, bencana menjadi panggilan untuk kebangunan rohani. 

Ketiga, Bahaya Hidup Tanpa Pertobatan.
Peringatan Yesus sangat jelas dan mengejutkan: risiko yang lebih besar bukanlah mengalami musibah atau tragedi, melainkan berdiri di hadapan Tuhan tanpa pertobatan. Orang-orang Galilea itu tidak mendapat kesempatan kedua di mezbah. Delapan belas orang itu tidak mendapat peringatan sebelum menara roboh. Yesus mengingatkan para pendengar-Nya, sekaligus kita semua bahwa setiap tragedi menyampaikan pertanyaan yang sama: Apakah engkau sudah siap? 

Tragedi terjadi pada berbagai macam orang di dunia yang rusak ini. Yang terpenting bukan mengapa hal itu menimpa orang lain, melainkan bagaimana kita meresponinya. Yesus tidak datang untuk menjelaskan penderitaan, Ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Dan itu dimulai dengan satu kata sederhana: pertobatan, AMIN. (ES)

Share