preloader
  Back   

TAHTA HATI

'Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka sengkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya' (Lukas 18:22-23)

Ayat di atas adalah dialog antara seorang pemimpin dengan Yesus,  tentang perbuatan baik yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup kekal. Ternyata ia telah melakukan semua perbuatan baik yang disebutkan oleh Yesus, sejak ia masih muda. Dari jawabannya tampaknya ia adalah seorang yang baik, taat kepada hukum. Namun ternyata hal itu saja belum cukup untuk memperoleh hidup kekal, ia harus menjual seluruh hartanya dan memberikannya kepada orang-orang miskin, setelah itu baru mengikut Yesus. Ternyata pemimpin tersebut keberatan dengan syarat Yesus karena hartanya sangat banyak. Hatinya tertaut kepada hartanya dan Yesus tahu akan hal itu. Allah tidak mau dinomor duakan, Ia mau menjadi yang terutama dalam hidup anak-anak-Nya. Harta telah bertahta di hati orang itu.

Hidup baik saja tidak cukup untuk memperoleh hidup yang kekal. Kita harus menempatkan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang akan memberi hidup di dalam kekekalan. Bisa jadi setiap hari kita hidup dengan melakukan perbuatan baik, seperti tidak mencuri, tidak berselingkuh, melakukan pelayanan dengan baik, mencintai keluarga, dan sebagainya, namun di hati kita Tuhan tidak bertahta. Ada hal-hal yang menggantikan Tuhan sebagai prioritas utama, pekerjaan, hobby, kekayaan, gelar mungkin menjadi hal yang tidak boleh digeser dari hati kita dan kita berusaha mempertahankannya sedemikian rupa. Yesus tahu apa yang sedang terjadi di dalam hati kita. Ia menghendaki agar kita menggeser berhala yang bertahta di hati kita dan menjadikan Tuhan sebagai yang paling utama dalam hidup.

Untuk memperoleh hidup kekal harus mengikut Yesus, menjadi murid-Nya dan mau dibentuk oleh-Nya. Setelah hati kita bersih dari ‘berhala’ barulah kita bisa dimuridkan oleh Yesus. Menjadi murid berarti menjalankan disiplin, mau belajar dan diajar, rendah hati dan taat melakukan perintah-Nya. Inilah yang membawa kita semakin dewasa di dalam Tuhan dan melakukan semua perintah-Nya bukan karena kebiasaan saja tetapi karena memiliki hati yang penuh dengan kasih kepada Allah dan sesama, seperti Guru Agung kita.  

Bila saat ini kita menyadari bahwa masih ada berhala yang bertahta di hati kita, segeralah menyingkirkannya. Berikan hati kepada Yesus Kristus untuk bertahta karena ini akan membawa kita kepada hidup yang kekal. (AD)

Share