preloader
  Back   

MEMANDANG KEKEKALAN

Dalam perumpamaan orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19–31), Yesus menyingkapkan realitas kekekalan yang sering diabaikan. Dunia menilai dari apa yang terlihat, tetapi Allah melihat dari perspektif yang kekal. Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan peringatan penuh kasih agar kita hidup dengan bijaksana hari ini. Bagaimana seharusnya kita bersikap?

Pertama,  Kebahagiaan dan Keberhasilan Dunia tidak menjamin Kebahagiaan dalam Dunia Kekal

“Yesus berkata… orang kaya itu selalu hidup dalam kemewahan… tetapi Lazarus penuh luka…” (Lukas 16:19–21). Kata Yunani untuk “bersukaria” adalah "euphrainō", yang menggambarkan kenikmatan hidup yang berlimpah. Namun setelah mati, kondisi berbalik (ayat 22–23). Ini menunjukkan bahwa kenikmatan sementara tidak menjamin sukacita kekal. Dunia dapat memberi kenyamanan, tetapi tidak keselamatan.

Yesus menegaskan kembali prinsip ini dalam Markus 8:36, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Kita dipanggil untuk mengevaluasi arah hidup kita. Apakah kita hanya mengejar kesuksesan lahiriah, ataukah kita membangun kehidupan yang berkenan kepada Allah? Gunakan berkat dunia sebagai alat untuk melayani, bukan tujuan akhir.

Kedua. Menghormati Firman Allah adalah Kunci bagi Keselamatan Kekal

Abraham berkata, “Mereka mempunyai Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu” (Lukas 16:29). Kata “mendengarkan” berasal dari "akouō", yang berarti bukan sekadar mendengar, tetapi menaati dengan respons iman. Bahkan mukjizat tidak akan mengubah hati yang menolak Firman (ayat 31). Roma 10:17 berkata, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

 Keselamatan tidak dibangun atas pengalaman spektakuler, tetapi atas respon kita terhadap Firman. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu memberi ruang bagi Firman—membaca, merenungkan, dan melakukannya. Firman bukan hanya informasi, tetapi transformasi.

Terakhir. Kepekaan terhadap Sesama mencerminkan kondisi rohani kita

Orang kaya tidak jatuh karena kekayaannya, tetapi karena ketidakpekaannya terhadap Lazarus di depan pintunya (Lukas 16:20–21). 1 Yohanes 3:17 menegaskan bahwa kasih Allah tidak tinggal dalam hati orang yang menutup mata terhadap kebutuhan saudaranya. Hidup yang benar di hadapan Allah selalu menghasilkan belas kasihan yang nyata.

Kisah ini menutup dengan peringatan serius: kesempatan untuk bertobat ada di dunia ini, bukan setelahnya. Karena itu, marilah kita hidup dengan perspektif kekekalan—tidak terikat pada kenikmatan sementara, tetapi berakar dalam Firman dan nyata dalam kasih. (LKH)

Share