Back   
JANGAN TAKUT PADA SUARA YANG MEMBESARKAN MASALAH
"Tetapi orang berdiam diri dan tidak menjawab dia sepatah kata pun, sebab ada perintah raja, bunyinya: ”Jangan kamu menjawab dia!”" - (Yesaya 36:21)
Yesaya 36 menceritakan keadaan Yehuda ketika pasukan Asyur datang mengepung kota-kota berkubu. Situasi mereka sangat menakutkan. Musuh bukan hanya datang dengan kekuatan militer, tetapi juga berusaha menghancurkan keberanian rakyat melalui perkataan. Juru minuman raja Asyur berdiri dan menyampaikan ancaman, bahkan mencoba membuat rakyat meragukan Tuhan. Ia seolah-olah berkata bahwa tidak ada yang sanggup menyelamatkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, rakyat Yehuda diperhadapkan pada pilihan: percaya kepada suara ketakutan atau tetap berpegang kepada Tuhan.
Menariknya, dalam ayat 21, rakyat diperintahkan untuk diam dan tidak menjawab. Diam bukan berarti menyerah. Diam dalam konteks ini adalah bentuk ketaatan dan pengendalian diri. Mereka tidak perlu berdebat dengan suara yang sedang berusaha menggoyahkan iman mereka. Ada kalanya kita juga harus belajar diam terhadap suara-suara yang terus menanamkan ketakutan, keraguan, dan keputusasaan. Tidak semua perkataan harus kita jawab. Tidak semua tuduhan harus kita layani. Tidak semua berita buruk harus kita biarkan menguasai hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mengalami hal yang serupa. Misalnya, ketika kita sedang menghadapi masalah keuangan, seseorang berkata, “Kamu pasti tidak akan sanggup. Keadaanmu akan semakin buruk.” Atau ketika kita menghadapi masalah pekerjaan, ada suara yang berkata, “Tidak ada jalan keluar lagi.” Jika kita terus mendengarkan perkataan tersebut, hati kita dapat dipenuhi kecemasan. Masalah yang sebenarnya besar bisa terasa semakin tidak mungkin dihadapi karena pikiran kita terus dipenuhi suara ketakutan.
Bayangkan seseorang sedang berjalan di malam hari dan mendengar suara anjing menggonggong dari balik pagar. Jika ia langsung panik, berlari tanpa arah, dan membayangkan dirinya akan diserang, ketakutannya menjadi semakin besar. Tetapi jika ia tetap tenang, melihat keadaan dengan jelas, dan berjalan sesuai jalan yang aman, ia dapat melewati situasi tersebut. Demikian juga dengan iman. Ketika masalah datang, kita tidak boleh membiarkan ketakutan menentukan langkah kita. Kita perlu berhenti sejenak, berdoa, dan mengingat bahwa Tuhan jauh lebih besar daripada masalah yang sedang kita hadapi.
Aplikasi bagi kita hari ini adalah belajar memilih suara mana yang akan kita dengarkan. Ketika kekhawatiran datang, jangan segera mengambil keputusan berdasarkan kepanikan. Bawalah persoalan itu kepada Tuhan dalam doa. Bacalah Firman Tuhan. Ingat kembali pertolongan Tuhan yang pernah kita alami. Jika ada perkataan manusia yang melemahkan iman, kita tidak harus membalasnya dengan kemarahan. Kita dapat memilih untuk diam, tetap tenang, dan mempercayakan pembelaan kita kepada Tuhan.
Sahabat HBC yang Tuhan Yesus kasihi, jangan biarkan suara masalah menjadi lebih keras daripada suara iman. Musuh dapat berusaha menakut-nakuti kita melalui keadaan, perkataan orang lain, bahkan pikiran kita sendiri. Namun, Tuhan tetap memegang kendali. Ketika keadaan tampak mengepung dari segala arah, tetaplah percaya. Tidak selamanya kita harus menjawab semua suara; terkadang kita hanya perlu diam, berdoa, dan menantikan Tuhan bertindak. Tetaplah teguh, sebab iman tidak berarti tidak memiliki masalah, tetapi memilih percaya kepada Tuhan di tengah masalah….Tuhan Yesus memberkati. (DSP)