Back   
SENI MENGATUR EMOSI
"Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak menahan diri dan meredakan amarah" (Amsal 29:11)
Kita sedang hidup di era serba cepat, serba mudah dan tidak sabaran. Budaya ini menstimulus manusia untuk bereaksi tanpa berpikir panjang. Emosi jalan duluan, akibat ditanggung belakangan. Ini membawa banyak kerusakan yang tidak seharusnya terjadi.
Nasihat Amsal 29:11 menunjukkan perbedaan prinsip yang sangat kontras mengenai tindakan impulsif seorang bebal dan kedewasaan seorang yang berhikmat dalam meregulasi emosi maupun konflik yang dihadapinya. Di En Gedi, Daud menghadapi salah satu ujian emosi yang terberat dalam hidupnya. Saul, raja yang mengejar dan memusuhinya sedang tertidur, hanya beberapa langkah jauhnya. Ini adalah momen yang sangat penting dalam hidup Daud, yang pada akhirnya menunjukkan karakter dan efektifitas kepemimpinannya.
Tiga hal mengenai seni mengatur emosi:
Pertama: Emosi yang tidak terkendali akan menghancurkan. Bagian pertama pada Amsal 29:11 memberi peringatan tentang tabiat orang bebal, yaitu melampiaskan seluruh amarahnya. Ketika kita membiarkan perasaan mengendalikan kita, akibatnya akan ada banyak kerusakan yang terjadi. Hubungan yang hancur dan situasi yang sulit bahkan tidak bisa diperbaiki. Kata ‘melampiaskan’ bisa digambarkan seperti seseorang menuangkan minuman dengan tidak terkontrol atau seperti bendungan yang jebol.
Orang yang bebal melakukan hal itu karena ia tidak mengembangkan kemampuan dalam dirinya untuk berhenti sejenak, berefleksi and memilih opsi respon yang tersedia dengan hati-hati. Mereka memilih untuk bereaksi sesegera mungkin. Akibatnya kalimat tajam sering terucap atau tindakan yang pada akhirnya disesali. Memang mengekspresikan emosi seperti itu memberikan kelegaan pada saat itu tetapi sifatnya sementara saja dan efeknya adalah luka, konflik dan hubungan yang rusak.
Kedua: Orang Bijak mengatur emosinya. Orang bijak tampil beda. Mereka tidak berusaha menahan gelombang emosi yang berusaha menjebol bendungan di hatinya tetapi mereka melatih dirinya untuk mendapatkan hikmat tentang apa, kapan dan bagaimana harus meresponi emosi yang mereka rasakan. Ini tidak berarti mereka lemah, justru sebaliknya hal ini menunjukkan kekuatan dalam pengendalian diri.
Orang bijak mengerti bahwa impresi pertama, atau emosi awal biasanya bukanlah respon yang benar. Mereka menciptakan ruang antara desakan dan reaksi, sehingga akan tercipta waktu untuk menimbang dan mengarahkan emosi atau bagaimana harus bereaksi. Mereka mengatur emosinya dan bukan emosi yang mengatur mereka. Dengan cara ini maka seseorang dapat memiliki hubungan yang lebih baik dengan sesamanya, bahkan ketika mereka membicarakan hal-hal yang sulit atau memakan emosi.
Ketiga: Hikmat sanggup menenangkan badai. Tujuan akhir hikmat bukan hanya sekadar kemampuan mengendalikan diri, melainkan pemulihan hubungan dan kedamaian. Kata ‘meredakan amarah’ berarti pengaruh. Orang bijak membawa pengaruh yang positif di sekitarnya. Ia memiliki kemampuan, bukan hanya mengendalikan dirinya, melainkan membawa kedamaian dimanapun ia berada.
Ketika potensi konflik rawan meledak, orang bijak akan melakukan mukjizatnya, yaitu dengan meredakan badai emosi yang bergelora. Lewat kesabaran, pilihan kata-kata yang tepat, dan respon yang terukur akan membuahkan kedamaian.
Pada akhirnya Daud menjadi raja menggantikan Saul dan hari ini kita mengenalnya sebagai raja yang besar dan hebat. Mengapa demikian? Salah satunya adalah karena ia berhasil melewati ujian di En Gedi. Daud mendapatkan peluang emas untuk menyelesaikan masalahnya dengan cepat. Satu kali hantaman, selesai sudah pelarian dari kejaran Saul.
Namun Daud membuktikan bahwa dirinya adalah orang bijak dan bukan orang bebal. Ia tidak terburu-buru, ia mengambil waktu, dan ia memutuskan untuk menggunakan kesempatan itu dengan benar. Ia memotong sebagian dari jubah Saul untuk menunjukkan kepadanya bahwa ia adalah seorang pembawa damai. Tentunya akan lain lagi ceritanya apabila Daud menjadi raja karena di En Gedi, ia terbukti ingin cepat, ingin mudah dan tidak sabaran, AMIN. (ES)