preloader
  Back   

PEMARAH DAN SUKA MENCARI GARA-GARA

“Seorang isteri yang suka bertengkar serupa dengan tiris yang tidak henti-hentinya menitik pada waktu hujan. Siapa menahannya menahan angin, dan tangan kanannya menggenggam minyak” (Ams 27:15-16 i_TB)

Seorang anak konglomerat menelpon saya dan setelah basa-basi dia berkata, “Pak Xavier, saya sudah  putus dengan pacar saya.”
“Lho mengapa?”
“Dia mudah marah dan selalu mencari gara-gara,” ujarnya dengan nada keluhan.
Curhatnya itu mengingatkan saya saat papa dan mamanya mengajak makan saya. Sang mama berkata, “Pak Xavier, anak cowokku baru pulang dari luar negeri. Dia bilang, kalau tidak mendapat pacar di Indonesia, dia akan kembali keluar negeri.”

Singkat cerita, papa mamanya ingin dia berkarier di Indonesia dan terutama meneruskan bisnis papa mamanya. Saya pernah mengenalkannya dengan cewek lulusan luar negeri juga, tetapi tidak click. “Nggak ada chemistry Pak,” ujarnya ketika itu. Tidak lama kemudian dia dapat pacar dan putus.
Meskipun belum jadi istrinya, cowok itu khawatir kalau nanti rumah tangganya berantakan. Dari ceritanya, ceweknya memang emosional dan selalu merasa diri benar sendiri. 

Amsal 27:15 menggambarkan betapa menjengkelkan istri yang suka bertengker yaitu seperti genting bocor. Bayangkan kalau di rumah Anda mendengar suara tik tik tik terus menerus?
Cilakanya, suara itu tidak bisa dihentikan. Siapa yang mampu menahan angin. Saya sering bergurau bahwa ketika belum punya AC, sudah ada AB. Saat lawan bicara saya bingung, saya menjawab, “Angin Brobos.” Meskipun sedikit, bisa masuk angin. Saya pernah muntah-muntah gara-gara menunggu istri di rumah sakit dan ada ‘angin brobos’ ini.

Hal ini ditegaskan kembali dengan pernyataan, siapa yang bisa menggenggam minyak? Bukankah itu tindakan yang sia-sia karena selalu mengalir terus. Ada ungkapan yang lain yaitu menggenggam pasir yang terus keluar melalui sela-sela jari kita. Kalau pasir masing mending ada yang tersisa dan telapak tangan kita. Kalau minyak? Sisanya hanya bisa untuk mengolesi luka.

Sobat bijak, marilah kita menjaga dan mengendalikan diri kita sendiri agar tidak menjadi pemarah. Jika mengambil POV kita sendiri, apa pun—sekali lagi APA PUN—yang orang lain lakukan, bisa jadi kita terjebak oleh pasir apung bernama "false assumption* dan "self-justification". Setuju? (XQP).
Doa: Bapa, ajar aku untuk belajar mengendalikan diri sendiri sebelum mengendalikan orang lain.

Share