Back   
ADA SETAN DI RUMPUT
“Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya? Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri, di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring” (Ams 8:1-3)
Ketika masih mengerjakan buku-buku Pdt. Dr. KAM Jusuf Roni, saya kenal beliau cukup baik. Maklum sebagian buku-bukunya saya yang mengedit dan menulis ulang berdasarkan kaset-kaset khotbahnya. Suatu kali saat mengobrol santai di kantor, kami diskusi tentang roh jahat dan okultisme.
“Jika kita menyembah rumput, di sana pun ada setan,” ujarnya sambil tertawa.
Apa intinya? Apa saja yang kita sembah melebihi Tuhan berpotensi menjadi berhala. Ucapan pendeta berkarisma ini sungguh melekat di benak saya sampai hari ini.
Begitu bangun tidur, kita diperhadapkan dengan pilihan. Mau hidup berhikmat atau mencari segala sesuatu yang nikmat dan akhirnya justru mati di jurang laknat. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa hikmat itu ada di mana-mana, khususnya bagi yang mau mencarinya.
Sebagai penulis buku dan kolumnis media massa digital aras utama di Indonesia, saya tidak bisa memilih waktu maupun tempat untuk mencari hikmat. Hikmat bisa saya temui di puncak Whistler, tepatnya di Whistler Blackcomb: North America's Largest Ski Resort saat ada undangan khotbah dari gereja setempat. Bisa juga di Jayapura, Papua.
Saat melayani retreat kaum muda di New South Wales, saya menemukan hikmat yang kemudian saya tuangkan dalam tiga tulisan justru saat memberikan konseling kepada mahasiswi kedokteran di Hyams Beach, Jervis Bay. Kini mahasiswi itu sudah menjadi dokter spesialis di Sydney.
Sobat bijak, jika kita membuka hati, hikmat bisa kita temukan bahkan di tempat-tempat yang paling mengerikan sekalipun. Saya pernah menulis tentang puncak penderitaan saat mengunjungi bekas penjara paling menakutkan di dunia. (XQP)
Doa: Bapa surgawi, ajar aku untuk selalu peka terhadap tuntunan hikmat-Mu agar tidak menempuh jalan yang salah.