preloader
  Back   

ALLAH SANG PEMBELA

(Mazmur 17) 

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti semacam pelatihan hamba Tuhan. Dalam pelatihan itu, ada kalimat atau moto yang harus kami hafalkan sebagai bentuk pembentukan karakter. Ada salah satu kalimat yang mengganggu saya saat itu. “Bukan soal benar atau salah, tetapi soal respon,” kira-kira begitulah kalimatnya. Saya tidak menyukainya. Pada waktu itu, saya berpikir, kalau saya ada dalam suatu argumen dan saya benar, maka saya akan mempertahankan kebenaran saya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, saya menyadari tidak semua situasi memperbolehkan saya untuk membela diri. Ada saatnya saya harus menanggapi dengan sikap yang rendah hati.

Mengenai Mazmur yang kita baca hari ini, Daud membawa perkaranya ke hadapan Tuhan. Dia membela dirinya di hadapan Tuhan, bahkan meminta Tuhan untuk memeriksa sendiri hatinya dan Daud yakin bahwa Tuhan tidak akan menemukan kesalahan sama sekali (ay. 3). Ini bukan berarti Daud sedang menyebut dirinya tanpa dosa, tetapi dia sedang ada dalam suatu perkara dengan orang lain dan merasa dirinya benar. Dia memohon Tuhan agar bangkit dan menghakimi lawan-lawannya yang telah membual dan sekarang hendak menghabisi nyawanya.

Apa yang Daud alami mungkin pernah kita alami, meskipun tidak sampai mengancam nyawa kita. Kita terlibat dalam suatu argumen, orang-orang mulai memfitnah kita, tidak ada yang memercayai kesaksian kita, dan akhirnya, kita datang berdoa kepada Tuhan meminta pembelaan. Barangkali ada dari kita yang mengikuti doa Daud, yakni memohon kehancuran musuh-musuh kita (ay. 13).

Doa seperti itu, saya yakin, akan tetap didengar oleh Allah. Saya juga yakin Tuhan pasti menjadi Pembela kita. Sayangnya, Alkitab tidak berhenti di Mazmur 17. Ketika kita membuka Perjanjian Baru, kita melihat sosok Daud yang jauh lebih sempurna dalam diri Kristus. Ketika Ia difitnah dan dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki, atau mendoakan agar musuh-musuhnya hancur. Malahan, Dia yang menanggung segala dosa mereka dan mendoakan agar Bapa mengampuni mereka (Luk. 23:34). Kristus bukan hanya mati untuk menanggung dosa kita, tapi Dia mati untuk menjadi Pembela kita di hadapan Bapa (Rm. 8:33-34). Ketika penghakiman Allah dijatuhkan atas kita, Dia maju dan menyatakan kita, bukan saja tidak bersalah, tapi benar, karena kebenaran-Nya dianugerahkan pada kita.

Maka dari itu, ketika kita berada dalam suatu argumen, kita bisa bersikap seperti Kristus. Kita mengetahui Allah pasti membela kita, bukan karena kebenaran kita sendiri, tapi karena kebenaran Kristus yang jauh lebih sempurna. Kita bisa mendoakan dan memberkati musuh-musuh kita, karena kita pun dahulu musuh Allah, tapi sekarang diampuni di dalam Kristus Yesus. (HDM)

Share