Back   
MENEBUS WAKTU
Di sebuah desa di lereng gunung, hiduplah seorang petani bernama Pak Sigap. Setiap tahun, ia menantikan datangnya musim hujan pertama, yaitu saat tanah cukup basah untuk ditanami padi. Ada satu hal penting pada masa ini, yaitu: jendela waktu itu tidak lama. Hanya sekitar dua minggu sejak hujan pertama turun, tanah berada dalam kondisi ideal untuk ditanami. Lewat dari masa itu, tanah akan terlalu basah atau justru mengeras kembali, sehingga hasil panen akan jauh berkurang.
Lain halnya dengan tetangganya, Pak Tunda , ia senang menunda-nunda. "Masih ada waktu," katanya, sambil sibuk dengan urusan lain yang kelihatan penting namun sebenarnya bisa ditunda. Ia menanam juga, tapi terlambat. Hasilnya, panennya jauh lebih sedikit dari Pak Sigap, bukan karena bibitnya buruk atau tanahnya kurang subur, tetapi karena ia gagal mengenali bahwa waktu yang tepat itu terbatas dan tidak akan terulang kembali.
Realita inilah yang ditegaskan Paulus dalam Efesus 5:15-16: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." Kata Yunani yang diterjemahkan "mempergunakan waktu" adalah istilah yang berarti "membeli kembali" atau "menebus." Ini adalah gambaran seorang pedagang yang melihat kesempatan langka dan segera mengambil kesempatan itu sebelum berlalu, sebab ia tahu kesempatan seperti itu tidak datang dua kali.
Seperti musim tanam Pak Sigap, hidup kita pun memiliki jendela kesempatan yang terbatas: waktu untuk memperbaiki hubungan yang retak, waktu untuk melayani sesama, waktu untuk bertumbuh dalam iman, waktu untuk menyatakan kasih kepada orang terkasih. Semuanya memiliki musimnya, dan musim itu tidak menunggu kita untuk siap.
Paulus mengingatkan bahwa zaman ini jahat, penuh distraksi, dan alasan yang tampak masuk akal untuk menunda hal yang benar-benar penting. Namun orang yang bijak, seperti Pak Sigap, tidak menunggu kondisi sempurna. Ia mengenali musimnya, lalu bertindak.
Pertanyaannya bagi kita hari ini: musim kesempatan apa yang sedang terbuka di hadapan kita sekarang? dan apakah kita akan menebusnya, atau membiarkannya berlalu seperti Pak Tunda? AMIN (ES)