Back   
TEMPAT BAGI HADIRAT TUHAN
"Pada waktu itu berkatalah Salomo: "TUHAN telah memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya"" (2 Tawarikh 6:1–2)
Di zaman sekarang, orang rela menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit untuk membangun rumah impian. Rumah dirancang senyaman mungkin, dilengkapi berbagai fasilitas, dan dihias agar memberikan rasa aman dan damai bagi penghuninya. Hal yang sama juga terlihat dalam dunia kerja dan pelayanan. Kita berusaha membangun karier yang sukses, keluarga yang harmonis, dan masa depan yang terjamin. Semua itu tentu baik dan patut diusahakan. Namun, di tengah kesibukan membangun banyak hal yang terlihat, sering kali kita lupa membangun sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu kehidupan yang menjadi tempat berdiamnya Allah.
Perkataan Salomo dalam ayat ini diucapkan setelah Bait Allah selesai dibangun dan kemuliaan TUHAN memenuhi tempat itu. Salomo mengakui bahwa Tuhan telah menggenapi firman-Nya dengan berkenan hadir di dalam awan yang melambangkan kemuliaan dan kekudusan-Nya. Walaupun Allah tidak mungkin dibatasi oleh sebuah bangunan, Dia berkenan menyatakan kehadiran-Nya di Bait Suci sebagai tanda persekutuan dengan umat-Nya. Bait Allah bukan sekadar bangunan yang megah, tetapi pusat penyembahan, tempat umat datang mencari Tuhan, dan bukti kesetiaan-Nya terhadap janji yang telah diberikan kepada Israel.
Melalui Yesus Kristus, makna Bait Allah kini digenapi dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus berdiam di dalam setiap orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu, panggilan kita bukan hanya membangun kehidupan yang berhasil menurut ukuran dunia, tetapi juga membangun hati yang kudus, taat, dan peka terhadap suara Tuhan. Kehadiran Allah akan nyata dalam hidup yang terus dipersembahkan kepada-Nya.
Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hati kita masih menjadi tempat yang nyaman bagi Tuhan? Jangan biarkan dosa, kesibukan, ambisi, atau kepahitan mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik-Nya. Hati yang dipenuhi oleh hadirat Tuhan jauh lebih berharga daripada rumah yang megah, sebab tanpa penyertaan-Nya, semua pencapaian manusia tidak akan memberikan damai yang sejati.
Bangunlah mezbah doa setiap hari, hiduplah dalam firman, dan peliharalah kekudusan. Ketika Tuhan berdiam dalam hidup kita, kita akan memiliki damai, hikmat, dan kekuatan untuk menghadapi setiap musim kehidupan. (YS)