Back   
DI WAKTU BERJUANG, PUJIAN ADALAH SENJATANYA
(Kisah Para Rasul 16:25-26)
Paulus dan Silas dipenjara bukan karena berbuat jahat, tetapi karena setia memberitakan Injil. Mereka dipukuli, dirantai, dan dimasukkan ke ruang penjara paling dalam. Secara manusia mereka punya alasan untuk mengeluh, takut, dan menyerah.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya: “Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah” (Kisah 16:25). Mereka tidak memuji karena keadaan sudah berubah. Mereka memuji karena percaya pada karakter Tuhan yang tidak berubah: Imanuel, Allah menyertai.
Dari sini kita belajar: pujian adalah senjata kita di waktu berjuang. Bukan untuk memaksa Tuhan membuat mukjizat, tetapi untuk mengingatkan hati kita bahwa Tuhan tetap berdaulat, tetap setia, dan tetap layak dipuji bahkan di saat tergelap. Tuhan tidak memberi rencana pelarian, tetapi Dia mengutus malaikat-Nya, mengguncang fondasi penjara, dan mematahkan setiap belenggu (Kisah 16:26).
Ada 3 alasan mengapa doa dan pujian menjadi senjata di masa sulit:
*Pertama, Pujian Membawa Kemuliaan Allah Turun*.
Saat Paulus dan Silas memuji, bukan hanya mereka yang mendengar. “Orang-orang hukuman lain juga mendengarkan mereka”. Pujian menciptakan atmosfer surga di tengah penjara. Akibatnya terjadi gempa, pintu terbuka, rantai lepas.
Ini misteri Kerajaan Allah. Pujian membuka kunci dari tekanan yang kita pegang erat. Mungkin hari ini engkau sedang di “penjara” masalah: keuangan, sakit, jalan buntu. Kondisimu sekarang bukan akhir cerita. Saat kita datang pada Yesus dengan doa dan pujian, ada terobosan dan mukjizat.
Contoh lain adalah Daniel. Waktu dimasukkan ke gua singa, Daniel tetap punya kebiasaan memuji. “Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” (Daniel 6:10). Karena kemuliaan Allah turun atas pujiannya, mulut singa-singa itu terkatup.
*2. Pujian Melepaskan Kuasa Tuhan*.
Lihat strategi Raja Yosafat saat menghadapi musuh besar 2 Tawarikh 20. Yang ditaruh di barisan terdepan bukan pasukan pemanah, tetapi para penyanyi dan pemain musik. Kedengarannya aneh. Tapi Yosafat percaya janji Tuhan: “Tuhan yang akan berperang untukmu”.
Begitu mereka mulai “menyanyikan nyanyian pujian bagi Tuhan”, Tuhan membuat musuh saling menyerang sampai tumpas (2 Tawarikh 20:22). Allah yang sama yang menghargai pujian Yosafat, juga sanggup memberi kuasa atas kemelut dan persoalan kita. Dia berkuasa, penuh kasih, dan merancangkan yang terbaik. Sebab itu agungkan Dia. Alkitab berkata Allah “berdiam di atas pujian umat-Nya”.
*Ketiga, Pujian Membawa Kesehatan dan Kesembuhan*.
Secara medis tubuh kita punya hormon bahagia: dopamin, serotonin, endorfin, oksitosin. Kita bisa meningkatkannya dengan berolahraga, berkebun, bersosial. Tapi Firman lebih dulu berkata: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Amsal 17:22).
Memuji Tuhan menciptakan kegembiraan. Kegembiraan itu menyehatkan. Lihatlah Saul. Saat roh jahat mengganggunya, Daud datang membawa kecapi dan mazmur. “Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur daripadanya” (1 Samuel 16:23). Musik tidak mengusir iblis, tapi menutup celah yang dipakai iblis untuk mengisi pikiran kita dengan takut dan putus asa.
Mazmur 40:3 berkata: “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN”.
Jadi di waktu berjuang, jangan berhenti memuji. Pujian mengundang kemuliaan, melepaskan kuasa, dan memulihkan kesehatan jiwa dan tubuh. Yesus layak dipuji, bukan karena keadaan kita baik, tetapi karena Dia Tuhan yang baik, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, Amen. Yesus Memberkati. (LT)