Back   
BERSAMA DIA
"Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita" (Mazmur 108:14)
Mazmur 108 merupakan mazmur pujian dan doa yang mengungkapkan keyakinan Daud kepada Allah di tengah ancaman musuh. Dalam mazmur ini, Daud terlebih dahulu menyatakan hatinya yang teguh untuk memuji Tuhan (ayat 2–6), kemudian memohon pertolongan Allah bagi umat-Nya (ayat 7–12). Daud menyadari bahwa kekuatan manusia memiliki keterbatasan. Kemenangan sejati tidak ditentukan oleh besarnya kekuatan pasukan atau kemampuan manusia, melainkan oleh pertolongan Allah.
Ayat 13 menjadi pernyataan iman Daud. Ia tidak berkata bahwa umat Allah akan menang karena kehebatan mereka sendiri, tetapi karena Allah menyertai dan bertindak bagi mereka. Dengan demikian, ayat ini mengajarkan bahwa keberanian orang percaya bukan berasal dari keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri, melainkan dari kepercayaan kepada Allah yang berkuasa.
Dari pernyataan iman Daud ini, kita dapat melihat tiga prinsip penting tentang bagaimana menjalani pergumulan dan menghadapi tantangan hidup bersama Allah.
Pertama: Mengandalkan Allah sebagai sumber kekuatan
“Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa.” Daud tidak menempatkan kemampuan manusia sebagai sumber utama kemenangan. Frasa “dengan Allah” menunjukkan bahwa keberhasilan yang diharapkan umat Allah bergantung pada penyertaan dan pertolongan-Nya.
Perbuatan gagah perkasa bukan berarti manusia menjadi hebat tanpa batas, melainkan bahwa bersama Allah, umat-Nya dimampukan menghadapi tugas dan tantangan yang melampaui kemampuan mereka sendiri. Jangan mengukur kemampuan menghadapi persoalan hanya berdasarkan kekuatan diri sendiri. Belajarlah mengandalkan Allah.
Kedua: Memiliki keberanian karena Allah menyertai: “Akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa.” Pernyataan Daud memperlihatkan iman yang aktif. Ia tidak hanya percaya bahwa Allah sanggup menolong, tetapi juga memiliki keberanian untuk melangkah dan bertindak.
Iman bukan alasan untuk menjadi pasif atau menunggu tanpa melakukan apa-apa. Orang yang percaya kepada Allah tetap harus mengambil tanggung jawab, berjuang, bekerja, dan melakukan bagian yang dipercayakan kepadanya. Namun, semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa keberhasilan akhirnya berada dalam tangan Tuhan. Iman kepada Allah seharusnya melahirkan keberanian untuk bertindak, bukan membuat kita menyerah sebelum berjuang.
Ketiga: Mempercayakan kemenangan kepada Allah: “Sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.” Bagian ini menegaskan bahwa Allah bukan sekadar memberikan kekuatan kepada umat-Nya, tetapi juga berkuasa menghadapi musuh-musuh mereka. Daud memahami bahwa ada peperangan yang tidak dapat dimenangkan hanya dengan kemampuan manusia.
Dalam konteks mazmur ini, yang dimaksud adalah ancaman nyata terhadap umat Israel. Namun, prinsip rohaninya mengingatkan kita bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan atau pembalasan manusia. Ada saatnya kita harus tetap melakukan kebenaran, bersabar, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada keadilan Allah. Jangan mengambil alih posisi Allah dengan membalas kejahatan. Lakukan bagian kita dengan benar dan percayakan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Aplikasi:
Dalam kehidupan, kita akan menghadapi berbagai pergumulan, tantangan pelayanan, tekanan pekerjaan, dan persoalan yang terkadang terasa lebih besar daripada kemampuan kita. Mazmur 108:13 mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendirian. Andalkan Allah sebagai sumber kekuatan, miliki keberanian untuk tetap melangkah, dan percayakan kemenangan kepada-Nya. Kemenangan sejati bukan berarti kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan tetap setia berjalan bersama Allah dan percaya bahwa Dia berkuasa menuntun hidup kita, Amin. Tuhan Yesus Memberkati. (SG)