Back   
ANAK-ANAK ANJING
(Markus 7:24-30)
Beberapa waktu lalu, ibadah youth gereja saya baru selesai membahas Roma 11. Saya memulai seri kotbah dari surat Roma sejak 2 tahun lalu. Saya menjelaskan kepada mereka bagaimana kondisi jemaat di Roma yang mengalami semacam perpecahan di dalamnya, antara jemaat non-Yahudi dengan jemaat Yahudi. Jemaat Yahudi merasa superior dikarenakan merekalah yang mewarisi Taurat dan janji-janji Tuhan. Sementara jemaat non-Yahudi merasa superior karena mereka bisa percaya Yesus tanpa perlu lahir dari keturunan Abraham.
Namun, di teks yang kita baca kali ini, kita fokus pada superioritas Yahudi. Adanya rasa superioritas inilah yang membuat Yesus berusaha untuk menyembunyikan aktivitas perjalanan-Nya ke Tirus. Orang-orang Yahudi percaya bahwa haram hukumnya memasuki rumah bangsa-bangsa lain (lihat juga isu yang sama dalam Kis. 10). Di perikop sebelumnya pun, Yesus sudah mulai membuka ruang untuk mempersatukan orang-orang Yahudi dengan bangsa-bangsa lain dengan mengatakan bahwa semua makanan halal (pernyataan yang sama yang juga diterima oleh Petrus di Kis. 10). Yesus ingin membangun gereja-Nya yang universal secara perlahan-lahan, tanpa menyinggung orang Yahudi.
Di sisi lain, Dia kelihatannya seolah menyinggung non-Yahudi dengan menyebut perempuan Siro-Fenisia ini sebagai “anjing”. Namun, jika diperhatikan secara bahasa aslinya, Yesus menggunakan kata yang lebih lembut yakni “anak anjing” atau “anjing kecil”. Benar, dalam pandangan Yahudi, bangsa-bangsa lain adalah anjing. Tapi Yesus memberikan petunjuk lewat ucapan-Nya bahwa mereka tetap diterima. Inilah yang mendorong perempuan Siro-Fenisia ini untuk rendah hati menerima posisinya dan memohon dengan iman bahwa Yesus pasti menerimanya sebagai “anjing kecil”-Nya.
Sekarang, lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus telah meruntuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan non-Yahudi (Ef. 2:14). Maka seharusnya, tidak boleh ada lagi arogansi di dalam gereja antara suku yang satu dengan yang lain, antara ras yang satu dengan yang lain, antara gender yang satu dengan yang lain. Semuanya merupakan anggota dari satu tubuh Kristus.
Beberapa waktu belakangan ini, saya mengingat kembali gereja saya di Bali. Saya baru menyadari bahwa hanya di gerejalah, semua suku bangsa bisa berkumpul dengan iman yang sama. Apabila Anda pergi ke Bali, Anda tak akan menemukan orang Jawa atau orang Timur pergi ke Pura. Anda tak akan menemukan orang Bali pergi ke masjid. Hanya di gereja Tuhan, semua suku bangsa bisa bersatu dalam kasih Kristus. (HDM)