preloader
  Back   

INTEGRITAS DI RUMAH, KESETIAAN DI RUANG PUBLIK

Pernahkah kita merasa ada "dinding" antara kehidupan pribadi dan publik? Mazmur 101 adalah jawaban Daud: integritas sejati dimulai di dalam rumah, bukan di atas panggung.
Mazmur Daud ini kemungkinan besar ditulis pada awal pemerintahan Daud, ketika ia baru saja mempersatukan Israel dan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota. Pada masa itu, raja-raja di Timur Dekat kuno biasanya bersumpah untuk memperkuat kekuasaan dan mengumpulkan pejabat yang menguntungkan secara politik. 

Namun, Daud menulis "piagam" yang sangat berbeda: ia menetapkan standar ilahi, bukan pragmatisme manusia, sebagai syarat bagi siapa yang boleh melayani di istananya. Ini adalah mazmur seorang raja yang menyadari bahwa kepemimpinannya harus mencerminkan pemerintahan Allah.

Mazmur ini adalah ikrar atau janji Daud di hadapan Tuhan. Mazmur ini terbagi menjadi dua bagian besar: ayat 1–4 berbicara tentang prinsip-prinsip hidup pribadi raja, sedangkan ayat 5–8 berbicara tentang prinsip-prinsip pemerintahan dan relasinya dengan orang lain. Daud tidak memisahkan antara "aku di rumah" dan "aku sebagai raja." Apa yang ia janjikan di hadapan Allah adalah satu paket: hidup yang benar di dalam rumah akan menghasilkan pemerintahan yang benar di ruang publik.

Di ayat pertama, Daud berkata, "Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum". Dalam bahasa aslinya, "kasih setia" adalah "chesed" (kesetiaan perjanjian, kasih yang teguh), dan "hukum" adalah "mishpat" (keadilan, kebenaran yang teratur). Kedua kata ini adalah "dua pilar" pemerintahan Allah (bdk. Mazmur 89:15). Daud tidak hanya ingin menjadi raja yang "baik" atau "adil" menurut standar manusia; ia ingin memantulkan karakter Yahweh sendiri. 

Lanjut ayat yang kedua, “Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela”; digunakan untuk menggambarkan integritas. Daud merindukan integritas yang total, hati yang utuh dan tidak terbelah. Mazmur ini adalah cermin bagi setiap pemimpin, baik raja, hakim, pendeta, maupun kepala keluarga. Daud sadar bahwa ia tidak dapat melakukan ini dengan kekuatannya sendiri. Itulah sebabnya ia berseru, "Bilakah Engkau datang kepadaku?" (ayat 2). Ia merindukan kehadiran Tuhan yang memberinya kekuatan untuk hidup setia. 

Mazmur ini memanggil kita untuk memeriksa "rumah" kita sendiri:
Jadikan rumah sebagai tempat latihan integritas. Sebelum kita menjadi "orang baik" di media sosial atau di kantor, jadilah suami/istri, orang tua, atau anak yang jujur dan setia di rumah.

Jauhkan "hal yang jahat" dari pandangan kita. Daud berkata, "Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila" (ayat 3). Bagaimana "feed" media sosial kita ? Jauhkan dari konten yang merusak hati.
Pilih teman dan mentor dengan bijak. Daud hanya ingin dikelilingi oleh orang-orang yang setia dan tidak bercela (ayat 6). Siapa yang kita izinkan masuk ke dalam "lingkaran dalam" hidup kita?

Berdoalah seperti Daud: "Tuhan, datanglah kepadaku, karena tanpa Engkau aku tidak dapat hidup setia." Integritas adalah buah dari kehadiran Allah yang bekerja di dalam hati yang mau taat. Ya Tuhan, ajarlah aku menyanyikan kasih setia dan keadilan-Mu—bukan hanya dengan mulut, tetapi dengan seluruh hidupku. Datanglah dan penuhilah rumahku dengan hadirat-Mu, supaya apa yang Engkau lihat di dalam rumahku sama dengan apa yang dunia lihat di luar sana. Di dalam nama Yesus, Amin. (SDK)

Share