Back   
PENGUASAAN DIRI
"Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Efesus 4:31-32)
Surat yang ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus ini bertujuan untuk mengingatkan mereka akan bahaya perpecahan yang dapat terjadi karena berbagai macam orang dengan karakternya masing-masing ada di dalamnya. Rasul Paulus mengajarkan agar mereka yang sudah mengenal Kristus dan pengajaran-Nya dapat mengubah karakter dan perilaku mereka menjadi lebih baik.
Bagaimana seseorang dapat berubah? Apakah dengan tidak berbuat apa-apa dapat terjadi perubahan? Terkait dengan ayat di atas maka kuncinya adalah dengan menguasai diri agar tidak lagi melakukan perbuatan yang jahat.
Hati yang dipenuhi dengan kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah serta hal-hal yang jahat akan membawa dampak terhadap perilaku maupun perkataan seseorang. Luka hati yang belum sembuh akan nampak dari perbuatan dan perkataan. Kondisi ini mempengaruhi interaksi dengan orang lain. Mereka akan dijauhi, tidak disukai dan dapat memancing pertengkaran. Dengan demikian mereka tidak dapat menjadi saksi Kristus, membuat orang yang belum kenal Dia tidak tertarik untuk mengenal-Nya.
Rasul Paulus mengingatkan agar menjadi orang yang ramah, penuh kasih mesra dan saling mengampuni. Tentunya hal ini bukan hanya tampak dari tampilan luar saja atau "lip service", namun dengan ketulusan hati melakukannya. Hal itu dapat terjadi jika kita benar-benar menyadari akan kondisi hati kita. Kita yang pernah terluka dan disakiti, mau membereskannya di hadapan Tuhan. Pengorbanan-Nya di kayu salib telah menyembuhkan luka dan dosa kita. Ia yang telah dihancurkan sedemikian rupa oleh orang-orang yang dikasihi-Nya, mengampuni mereka dengan tulus. Kasih yang besar inilah yang harus kita beritakan kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus. Kesembuhan luka hati oleh pengampunan Kristus, harus kita nyatakan melalui kehidupan setiap hari lewat kata dan perbuatan, walaupun menghadapi situasi yang sulit dalam berinteraksi dengan sesama.
Penguasaan diri sangat dibutuhkan untuk menjadi saksi Kristus oleh pertolongan Roh Kudus, bukan kekuatan diri sendiri. Dengan penguasaan diri maka kita akan berubah dan hal ini tentunya melewati proses. Kerendahan hati untuk mau berubah dan dibentuk oleh firmanNya akan membawa kita kepada rencanaNya yang mulia.
Perubahan membutuhkan pengorbanan, pengorbanan akan diperhitungkan oleh Tuhan. Mengenal Kristus dan mengalami pembaharuan akal budi menjadikan kita manusia baru. Kuasailah diri dan jadilah terang Kristus. (AD)