Back   
ANUGERAH YANG MEMULIHKAN
(1 Timotius 1:1–20)
Paulus menulis surat ini kepada Timotius, anak rohaninya, yang sedang melayani di Efesus. Saat itu, jemaat menghadapi persoalan ajaran yang menyimpang dari kebenaran.
Paulus mengingatkan bahwa tujuan pengajaran yang benar adalah kasih, yang lahir dari hati yang murni, hati nurani yang baik, dan iman yang tulus (ay. 5). Artinya, semakin kita
mengenal firman Tuhan, seharusnya semakin nyata pula kasih kita kepada sesama, bukan semakin tinggi hati atau merasa diri paling benar atau sombong rohani.
Paulus menegaskan bahwa hukum Taurat itu baik jika digunakan sebagaimana mestinya (ay. 8). Hukum menolong manusia menyadari dosa dan melihat betapa jauhnya hidup kita dari kehendak Tuhan. Namun, menyadari dosa saja tidak cukup. Kita perlu datang kepada Kristus, sebab hanya melalui Dia kita menerima keselamatan. Yang menarik, Paulus tidak menutupi masa lalunya. Ia mengakui bahwa dirinya dahulu adalah penghujat, penganiaya, dan orang yang ganas (ay. 13). Ia punya masa lalu yang
kelam, tetapi Tuhan tetap menunjukkan belas kasihan kepadanya.
Dalam ayat 14, Paulus menggunakan kata Yunani "hyperepleonasen"(ὑπερεπλεόνασεν), yang menggambarkan kasih karunia Tuhan yang melimpah dengan sangat berlimpah. Dalam ayat 15, Paulus menyampaikan inti Injil: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk
menyelamatkan orang berdosa,” bahkan mengakui dirinya sebagai yang paling berdosa (ay. 15). Pengakuan ini bukan alasan untuk terus hidup dalam dosa, melainkan kesaksian bahwa kesabaran dan belas kasihan Kristus sanggup menjangkau orang yang dahulu
menentang-Nya. Anugerah tidak diberikan karena Paulus telah layak; justru anugerah itulah yang mengubah arah hidupnya dan memampukannya melayani Tuhan.
Mungkin ada di antara kita yang masih dibayangi kesalahan masa lalu, merasa tidak layak di hadapan Tuhan, atau menganggap diri sudah terlalu jauh untuk dipulihkan. Kisah
Paulus mengingatkan kita bahwa Tuhan sanggup mengubah kehidupan seseorang. Namun, anugerah bukan alasan untuk terus melakukan kesalahan yang sama.
Kita dipanggil untuk bertobat, bertumbuh dalam iman, menjaga hati nurani, dan menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya. Anugerah Allah bukan pembenaran untuk terus berbuat dosa, melainkan dasar untuk menjalani hidup yang diperbarui. Orang yang sungguh memahami besarnya belas kasihan Allah akan belajar mengasihi, hidup dalam kebenaran, dan setia
menjalankan panggilan-Nya.
Doa: Tuhan, terima kasih atas anugerah dan belas kasihan-Mu. Ampuni dosaku, pulihkan hati nuraniku, murnikan kasihku, dan teguhkan imanku. Mampukan aku hidup dalam kebenaran dan setia menjalankan panggilan-Mu, Amin.
Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua! (JPT)