Back   
CIRI MANUSIA ROHANI
(1 Korintus 2:6–16)
Apa yang membuat seseorang disebut “manusia rohani”? Apakah karena ia rajin beribadah, banyak mengetahui ayat Alkitab, aktif melayani, atau sering berbicara tentang Tuhan? Dalam bacaan HBC kita hari ini di dalam 1 Korintus 2:6–16, Paulus memberikan ukuran yang lebih dalam. Manusia rohani bukan sekadar orang yang terlihat religius, tetapi orang yang hidupnya semakin dibentuk oleh Roh Kudus sehingga memiliki cara berpikir dan cara menilai yang selaras dengan Kristus.
Pertama, manusia rohani bertumbuh menuju kematangan (ay. 6). Paulus berbicara tentang hikmat Allah di antara mereka yang telah “matang” (teleios). Kematangan rohani bukan berarti sudah sempurna dan tidak pernah gagal, melainkan bersedia terus bertumbuh dalam memahami kehendak Allah. Karena itu, kedewasaan tidak diukur terutama dari berapa lama seseorang menjadi Kristen atau seberapa banyak ia mengetahui Alkitab, tetapi dari kesediaannya untuk dikoreksi dan dibentuk oleh Firman.
Kedua, manusia rohani memiliki sumber orientasi yang berbeda (ay. 12). Paulus berkata bahwa orang percaya tidak menerima “roh dunia, tetapi Roh yang berasal dari Allah”. Manusia rohani tetap hidup di tengah dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai kompas hidupnya. Dalam keputusan tentang pekerjaan, uang, keluarga, relasi, maupun penggunaan media sosial, ia belajar bertanya bukan hanya, “Apa yang menguntungkan saya?”, tetapi, “Apa yang berkenan bagi Tuhan?”
Ketiga, manusia rohani belajar memahami karya Allah (ay.10-12). Roh Kudus menyatakan perkara-perkara Allah supaya kita mengetahui apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Karena itu, manusia rohani tidak selalu mengerti semua yang terjadi, tetapi ia belajar membawa setiap keadaan kepada Tuhan. Keberhasilan dilihat sebagai anugerah, kegagalan sebagai kesempatan untuk dibentuk, dan penderitaan sebagai ruang untuk belajar percaya.
Keempat, manusia rohani mampu menilai segala sesuatu (ay. 15). Kata "menilai" pada ayat 15 menggunakan kata anakrinō, yaitu memeriksa atau membedakan. Manusia rohani tidak mudah percaya hanya karena sesuatu terlihat rohani, populer, atau viral. Ia menguji ajaran, nilai, keputusan, informasi, dan pengalaman berdasarkan kebenaran Allah.
Kelima, manusia rohani memiliki pikiran Kristus. Inilah puncaknya: “kami memiliki pikiran Kristus” (ay. 16). Tujuan karya Roh bukan sekadar membuat kita semakin religius, tetapi membuat kita semakin melihat kehidupan seperti Kristus melihatnya, mengasihi seperti Kristus, mengampuni seperti Kristus, melayani seperti Kristus, dan merespons kehidupan dengan hati Kristus.
Pada akhirnya, manusia rohani bukan manusia yang sempurna, tetapi manusia yang terus dibentuk Roh Kudus menuju kedewasaan dan keserupaan dengan Kristus. Mari, bersama Roh Kudus mari kita terus dibentuk untuk menjadi manusia-manusia rohani. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita sentiasa. (YAS)