Back   
JADILAH BIJAK
"Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan" (Amsal 13:8)
Ayat di atas ditulis oleh raja Salomo yang terkenal dengan hikmatnya, mengajarkan tentang pentingnya memiliki ketaatan kepada orang tua sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap anak-anak yang Tuhan percayakan. Orang tua yang baik dan benar pasti menginginkan anak-anaknya hidup lebih baik dikemudian hari.
Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tentunya melibatkan karakter, pengetahuan, budi pekerti, yang untuk mendapatkannya diperlukan pelatihan, disip iklin yang dibangun secara konsisten. Proses pendidikan secara informal dimulai dari rumah sejak anak masih bayi dan secara formal dimulai sejak anak memasuki sekolah, namun yang terpenting adalah pendidikan oleh orang tua sebagai pemegang mandat dari Tuhan.
Sebagai seorang anak hendaknya kita memiliki ketaatan kepada orang tua sebagaimana Kristus tunduk kepada Allah Bapa. Ia menaati misi Bapa untuk menyelamatkan umat manusia dari hukuman kekal. Bertumbuh dewasa dengan didikan ayah dan ibu yang benar membawa kita menjadi orang yang bijak dalam menghadapi tantangan kehidupan dan mengambil keputusan. Ketika proses pendidikan berlangsung pasti tidak mengenakkan bagi yang menjalaninya, sebagaimana besi dibentuk menjadi anak panah yang tajam. Dipanaskan dengan api sampai memuai, ditempa untuk dibentuk sesuai keinginan sang pemanah, diasah agar menjadi tajam. Itu semua proses yang harus dijalani untuk mendapatkan anak panah yang tajam, kuat dan melesat jauh.
Demikian juga didikan yang berupa ajaran, nasihat, disiplin semuanya bertujuan membentuk karakter yang lebih baik. Bila seorang anak membuka hati terhadap semua itu maka ia akan menjadi anak yang bijak. Sebaliknya jika ia menolak teguran dari ayahnya bahkan berani menentangnya maka sifat pencemooh akan melekat pada dirinya.
Pencemooh adalah orang yang suka menghina, mengejek, membual, merendahkan orang lain. Hal ini akan terjadi pada anak yang tidak mau mendengarkan teguran ayahnya . Sifat ini akan membawa anak kepada masalah dalam relasinya dengan sesama karena ia menganggap dirinya selalu benar, lebih tahu dari orang lain.
Berdasarkan renungan firman Tuhan pada hari ini, mari introspeksi diri kita, apakah kita adalah orang yang suka mendengarkan didikan dari orang tua kita ataukah seorang pencemooh karena menolak teguran? Apakah anak-anak kita sudah kita bawa menjadi anak yang taat mendengarkan nasihat ataukah mereka adalah pencemooh? Kiranya kita dan generasi penerus kita menjadi orang yang bijak, taat kepada nasihat dan firman Tuhan. (AD)