preloader
  Back   

MEMANDANG ALLAH

(Yesaya 17:4-11)

Seperti yang dikatakan oleh C.S. Lewis bahwa Allah berteriak dalam penderitaan manusia. Nubuat mengenai Efraim dalam pasal ini mengingatkan saya akan kutipan tersebut.

Allah menjanjikan hukuman atas Israel Utara yang mengakibatkan mereka akan berakhir seperti orang Amori yang dulu pernah mereka usir dari Tanah Perjanjian. Identitas Israel sendiri pada masa itu tidak jauh berbeda dengan orang Amori yang dulu. Mereka sama-sama menyembah berhala dan mengorbankan anak-anak mereka kepada Molokh. Maka dari itu, hukuman yang sama pun menunggu mereka.

Namun, di sisi lain, Allah juga berjanji bahwa "Pada hari itu," yang biasanya menunjuk pada akhir zaman, orang Israel akan kembali menyembah Allah yang sejati. Allah tidak meninggalkan umat-Nya dalam kegelapan tapi akan menyelamatkan mereka.

Kisah Israel ini juga menjadi kisah kita sebagai orang percaya. Kita menyembah berhala-berhala buatan hati kita sendiri: validasi, prestasi, uang, pekerjaan, jabatan, koneksi, dan lain-lain. Kita, sekalipun sudah percaya Yesus, tidak jarang melupakan Dia dan memandang pada berhala-berhala hati kita ini.

Tetapi, sama halnya seperti orang Israel, kita tidak akan ditinggalkan oleh Allah. Bukan karena kebaikan kita. Bukan juga karena pikiran kita yang terus-menerus memikirkan hal-hal rohani. Tapi karena di kayu salib, Yesus Kristus sudah ditinggalkan dan dilupakan oleh Allah Bapa, supaya kita selalu disertai dan diingat oleh-Nya. Di salib, Yesus sudah menanggung hukuman penyembahan berhala yang kita perbuat, supaya kita bisa menerima janji penyertaan dan pemulihan dari Allah.

Oleh sebab itu, kita bisa dengan jujur datang pada Bapa mengakui dosa penyembahan berhala kita. Kita bisa dengan yakin berpegang pada janji-Nya yang mengatakan "Pada waktu itu manusia akan memandang kepada Dia..." Kita yakin bahwa suatu saat nanti, hidup kita akan disempurnakan sehingga sama seperti Yesus supaya boleh terus-menerus memandang pada kemuliaan Allah. (HDM)

Share