preloader
  Back   

CANTIK TANPA FILTER

"Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah" (1 Timotius 2:9-10)

Di era media sosial, penampilan sering menjadi standar nilai diri. Pakaian bermerek, gaya hidup mewah, dan foto yang sempurna seolah menentukan siapa kita. Dua ribu tahun lalu, ternyata masalahnya tidak jauh beda. Paulus menulis surat kepada Timotius yang melayani di Efesus, kota kaya dan pusat penyembahan dewi Artemis. Di sana, penampilan menunjukkan status sosial. Rambut yang dikepang dengan hiasan emas dan mutiara melambangkan kemakmuran. Bisa dibayangkan, sebagian perempuan kaya berpenampilan ‘heboh’ ke dalam ibadah, tentu menarik perhatian banyak orang yang seharusnya tertuju pada Tuhan. Perbedaan kelas pun sangat terlihat di tengah jemaat.
 
Paulus tidak melarang perempuan merawat diri atau berpakaian baik. Namun, ia memberi batasan yang tegas. Ada tiga panduananya:
Pantas dan sopan. Penampilan perlu mencerminkan rasa hormat, baik kepada Tuhan maupun kepada orang lain. 
Sederhana. Artinya tidak berlebihan dan tidak haus pengakuan. 
Perbuatan baik. Inilah “perhiasan” yang sesungguhnya bagi mereka pengikut Kristus. 

Intinya, iman yang sejati terlihat dari karakter dan pelayanan, bukan dari tampak luar.

 
Hari ini, kita punya “Efesus” versi digital. Kita tergoda membangun image, memamerkan pencapaian, dan mengukur diri dari jumlah "likes". Prinsip ini pun berlaku untuk semua, laki-laki maupun perempuan. Pria juga bisa terpeleset pada pamer kendaraan, jabatan, atau gelar. Bahkan pelayanan bisa berubah menjadi panggung ambisi.

 
Ayat ini mengajak kita berefleksi: apa yang paling sering saya tampilkan? Apakah beranda saya lebih banyak berbicara tentang penampilan, atau tentang kasih, kejujuran, dan iman?
Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk tidak terjebak dalam hal ini: 
Rawat diri dengan wajar dan jangan biarkan penampilan menjadi sumber harga diri. Sebelum membagikan sesuatu di media sosial, periksa motivasinya. Yang terakhir, hanya fokus pada penampilan tapi lupa berbuat baik, membantu sesama dan melayani di gereja.
 
Penampilan akan memudar, tetapi karakter yang dibentuk oleh Kristus akan terus bersinar. Inilah cantik tanpa filter, Amin. (ES)

Share