preloader
  Back   

HATI BAGI SANG RAJA

(Yohanes 12:1-8) 

Menjelang peristiwa salib, Yesus datang ke Betania dan dijamu di rumah sahabat-sahabat-Nya. Di tengah perjamuan itu, Maria melakukan tindakan yang tidak biasa. Ia mengambil minyak narwastu murni yang sangat mahal, meminyaki kaki Yesus, lalu menyekanya dengan rambutnya. Tindakan tersebut mengundang kritik dari Yudas Iskariot, tetapi mendapat pujian dari Yesus. Melalui peristiwa ini, Yohanes menunjukkan seperti apa hati yang berkenan kepada Sang Raja. Jika Yesus adalah Raja atas hidup kita, maka hati seperti inilah yang seharusnya kita miliki.

Pertama, hati yang menempatkan Yesus di atas segalanya (ay. 3). Maria mengambil minyak narwastu murni yang mahal harganya dan mencurahkannya kepada Yesus. Nilai minyak itu diperkirakan setara dengan upah hampir satu tahun kerja. Namun Maria rela melepaskannya karena ia menganggap Yesus jauh lebih berharga daripada apa pun yang dimilikinya.

Tindakan Maria menunjukkan bahwa penyembahan sejati selalu dimulai dari penilaian yang benar terhadap Kristus. Ia tidak melihat apa yang akan hilang, tetapi kepada siapa persembahan itu diberikan. Baginya, Yesus layak menerima yang terbaik.

Inilah hati yang dicari Tuhan: hati yang menempatkan Kristus di atas harta, kenyamanan, ambisi, dan segala sesuatu yang lain. Seperti perkataan Paulus, "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya" (Filipi 3:8).

Kedua, hati yang memberi dengan kasih yang tulus (ay. 4-6). Ketika Maria memberi, Yudas mulai mengkritik. Ia mempertanyakan mengapa minyak itu tidak dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Namun Yohanes membuka isi hati Yudas. Kritiknya bukan lahir dari kepedulian terhadap orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri yang sering mengambil uang dari kas yang dipegangnya.

Di sini Yohanes memperlihatkan kontras yang tajam. Maria memberi dengan kasih yang tulus, sementara Yudas berbicara tentang memberi, tetapi sebenarnya sedang memikirkan dirinya sendiri.

Tuhan melihat motivasi hati di balik pemberian itu. Hati yang tulus tidak mencari pujian, tidak mencari keuntungan pribadi, dan tidak memberi karena terpaksa. 

Ketiga, hati yang peka terhadap kehendak-Nya (ay. 7-8). Yesus kemudian membela Maria dengan berkata bahwa apa yang dilakukannya berkaitan dengan hari penguburan-Nya. Menariknya, pada saat banyak murid masih belum memahami jalan salib, Maria justru melakukan tindakan yang sejalan dengan rencana Allah.

Tanpa banyak bicara, Maria menunjukkan kepekaan terhadap momen yang sedang terjadi. Ia tidak menunda kasihnya, tidak menunda penyembahannya, dan tidak menunggu kesempatan lain.

Hati yang mengasihi Tuhan akan selalu rindu memahami kehendak-Nya. Ia belajar peka terhadap tuntunan Tuhan, taat pada waktu Tuhan, dan siap melakukan apa yang Tuhan kehendaki. 

Para sahabat HBC, melalui pembacaan kita hari ini belajar bahwa hati yang berkenan kepada Sang Raja adalah hati yang menempatkan Yesus di atas segalanya, hati yang memberi dengan kasih yang tulus dan hati yang peka terhadap kehendak-Nya.

Pada akhirnya, Tuhan melihat hati kita. Ketika hati kita sepenuhnya menjadi milik Kristus, maka seluruh hidup kita akan menjadi persembahan yang harum dan berkenan di hadapan Sang Raja. (YAS)

Share