Back   
MULUT YANG MENYALAKAN API
“Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran" (Amsal 26:20)
Api unggun kecil bisa membakar hutan. Begitu pula lidah. Amsal ini menggabungkan dua tema: kemalasan dan perkataan yang merusak.
Ayat 13–16 menyoroti si pemalas. Secara harfiah ia berkata, "Ada singa di jalan!" Di zaman Israel, singa memang ancaman nyata, tetapi si pemalas memakainya sebagai alasan. "Pintu berputar pada engselnya" menggambarkan orang yang berputar-putar di tempat tidur. Ia bahkan terlalu malas mengembalikan tangan dari pinggan ke mulut. Secara teologis, kemalasan bukan sekadar sifat, tetapi penolakan atas mandat Tuhan untuk bekerja (Kej. 2:15).
Ayat 17–19 berbicara tentang orang yang ikut campur. Secara historis, memegang telinga anjing liar sangat berbahaya. Demikian orang yang mencampuri pertengkaran orang lain. Ayat 18–19 menyebut orang yang menipu lalu berkata, "Aku hanya bergurau." Ini sindiran bagi mereka yang memakai humor untuk melukai lalu lari dari tanggung jawab.
Ayat 20–21 adalah puncaknya. Ada paralelisme: kayu dan arang menyalakan api; pemfitnah dan orang yang suka bertengkar menyalakan perbantahan. Tuhan membenci lidah yang memecah belah (Ams. 6:16–19). Yakobus 3:6 mengingatkan bahwa lidah dapat membakar seluruh hidup. Di dalam Kristus, kita dipanggil menjadi pembawa damai, bukan penyulut api.
Dalam keseharian, mari kita:
1. Berhenti membuat alasan. Jangan tunda pekerjaan karena "nanti saja" atau "takut gagal." Kerjakan yang ada di depan mata hari ini.
2. Jangan ikut campur. Jika bukan urusan kita, jangan masuk ke pertengkaran orang lain. Menjadi pendengar lebih baik daripada menjadi provokator.
3. Jangan bercanda yang menyakiti. Sebelum melontarkan gurauan, tanya: apakah ini membangun atau melukai? Permintaan maaf tidak bisa dihapus dengan "cuma bercanda."
4. Berhenti menyebarkan fitnah. Jangan meneruskan gosip. Jika tidak ada kayu, api padam. Jadilah orang yang memadamkan, bukan menyalakan.
Hari ini, periksa dua hal: kemalasan dan lidah. Keduanya bisa menghancurkan hidup. Namun Yesus Kristus telah memadamkan api murka Allah dan memberi kita Roh yang menghasilkan damai. Mari pakai mulut untuk memberkati, bukan membakar.
Doa:
Tuhan, ampuni kami yang malas dan suka menyalakan pertengkaran. Ajari kami bekerja dengan setia dan berkata-kata dengan kasih. Jadikan kami pembawa damai. Dalam nama Yesus, Amin. (SDK)