preloader
  Back   

BERMEGAH HANYA DI DALAM TUHAN

"Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan"" (1 Korintus 1:30-31)

Melalui ayat-ayat di atas, Paulus sedang menjelaskan bahwa keselamatan dan kehidupan baru tidak berasal dari kehebatan manusia, tetapi dari karya Allah. Jemaat Korintus hidup dalam lingkungan yang sangat menghargai hikmat, status, kemampuan, dan kebanggaan manusia. Karena itu Paulus mengingatkan mereka bahwa Allah justru memilih dan menyelamatkan manusia bukan berdasarkan kehebatan duniawi.

Puncaknya terdapat dalam ayat 30: “Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.” Artinya, keberadaan kita sebagai orang percaya sepenuhnya merupakan karya Allah. Di dalam Kristus, Allah menjadi sumber hikmat, pembenaran, pengudusan, dan penebusan kita. Karena semuanya berasal dari Tuhan, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri. Inilah yang membawa Paulus kepada kesimpulan dalam ayat 31: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Kalau keselamatan dan seluruh kehidupan rohani kita berasal dari karya Allah, maka pertanyaannya adalah: apa yang sebenarnya dapat kita banggakan dari diri kita sendiri? Paulus membawa kita melihat bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dalam Kristus adalah karya Tuhan.

Pertama:  Kristus adalah sumber hikmat kita. Paulus berkata bahwa Kristus “telah menjadi hikmat bagi kita.” Hikmat yang dimaksud bukan sekadar kecerdasan intelektual, tetapi hikmat Allah yang menyatakan jalan keselamatan melalui Kristus. Dunia menganggap salib sebagai kebodohan, tetapi bagi orang percaya, Kristus adalah hikmat dan kuasa Allah. Karena itu, kehidupan orang percaya tidak seharusnya dibangun di atas kebijaksanaan manusia, melainkan pada Kristus sebagai pusat dan sumber kebenaran.

Kedua: Kristus adalah dasar pembenaran dan pengudusan kita. Paulus mengatakan bahwa Kristus “membenarkan dan menguduskan” kita. Pembenaran berarti Allah menyatakan kita benar bukan karena jasa atau usaha kita, tetapi karena karya Kristus. Sedangkan pengudusan menunjuk pada proses kehidupan yang terus dibentuk menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Jadi, kita tidak hanya diselamatkan dari hukuman dosa, tetapi juga dipanggil untuk hidup dalam kekudusan. Semuanya berawal dari karya Kristus, bukan dari kebanggaan manusia.

Ketiga: Kristus adalah penebusan kita. Kristus juga disebut sebagai Dia yang “menebus kita.” Penebusan berbicara tentang pembebasan dari perbudakan dosa melalui pengorbanan Kristus. Kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Harga penebusan itu telah dibayar oleh Kristus. Karena itu, keselamatan bukanlah alasan untuk membanggakan diri, melainkan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan.

Keempat: Karena itu, hanya Tuhan yang layak menerima kemuliaan. Paulus menutup dengan kalimat yang sangat tegas: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Jika hikmat kita berasal dari Kristus, pembenaran kita berasal dari Kristus, pengudusan kita adalah karya Kristus, dan penebusan kita juga berasal dari Kristus, maka tidak ada ruang untuk kesombongan manusia.

Kita boleh bersyukur atas kemampuan, pelayanan, pencapaian, atau keberhasilan yang Tuhan berikan. Tetapi semuanya harus dikembalikan kepada Tuhan sebagai sumbernya.

Renungan HBC hari ini mengingatkan kita untuk tidak membangun kebanggaan hidup di atas kemampuan, jabatan, pelayanan, kekayaan, atau pencapaian pribadi. Semua yang kita miliki pada akhirnya adalah karena anugerah Tuhan. Karena itu, jangan mengambil kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Allah. Jika ada sesuatu yang patut kita banggakan, bukanlah siapa kita atau apa yang telah kita capai, melainkan siapa Kristus dan apa yang telah Ia kerjakan bagi kita. Seperti Paulus berkata: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan," Amin. Tuhan Yesus Memberkati. (SG)

Share