Back   
YANG DICARI TUHAN
(Lukas 15:1–32)
Lukas 15:1–32 menyingkapkan satu kebenaran penting: Tuhan bukan Allah yang pasif menunggu, tetapi Allah yang aktif mencari. Melalui tiga perumpamaan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang, Yesus menggambarkan berbagai kondisi manusia yang jauh dari Tuhan, sekaligus menunjukkan kasih-Nya yang tak terbatas. Dari bagian ini, kita dapat melihat setidaknya empat kelompok yang dicari Tuhan.
Pertama, Tuhan mencari yang tersesat karena kelemahan. Dalam perumpamaan domba yang hilang, sang gembala meninggalkan 99 ekor untuk mencari satu yang tersesat. Domba sering kali tidak sadar bahwa ia sedang dalam bahaya. Ini menggambarkan orang-orang yang menjauh dari Tuhan bukan karena pemberontakan, tetapi karena kebingungan, kecerobohan, atau kelemahan iman. Mereka mungkin terseret arus kehidupan, terluka, atau kehilangan arah. Namun Tuhan tidak mengabaikan mereka. Ia justru mendekat, mencari, dan membawa mereka kembali dengan penuh kasih. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun yang terlalu “kecil” untuk diperhatikan Tuhan.
Kedua, Tuhan mencari yang hilang karena ketidakberdayaan. Perumpamaan dirham yang hilang menunjukkan sesuatu yang berbeda. Koin tidak bisa bergerak atau kembali dengan sendirinya. Ia sepenuhnya bergantung pada pemiliknya untuk ditemukan. Ini melambangkan orang-orang yang terjebak dalam kondisi tertentu. Sebut saja dosa, trauma, tekanan hidup, atau sistem yang menindas, sehingga mereka tidak mampu bangkit sendiri. Tuhan tidak menunggu mereka menemukan jalan pulang; Ia mengambil inisiatif untuk mencari dengan tekun, seperti perempuan yang menyalakan pelita dan menyapu rumah sampai menemukan dirham itu. Ini adalah gambaran kasih Tuhan yang aktif dan penuh kesabaran.
Ketiga, Tuhan mencari yang menjauh karena pemberontakan. Dalam kisah anak yang hilang, sang anak bungsu dengan sadar memilih meninggalkan rumah bapanya. Ia menginginkan kebebasan tanpa batas, tetapi akhirnya jatuh dalam kehancuran. Ini menggambarkan manusia yang dengan sengaja menjauh dari Tuhan, mengejar keinginan sendiri. Namun yang mengejutkan, sang bapa tetap menunggu dengan hati terbuka. Ketika anak itu kembali, ia disambut bukan dengan hukuman, tetapi dengan pelukan dan pemulihan. Ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan tidak dibatasi oleh kesalahan kita. Bahkan bagi mereka yang pernah meninggalkan Tuhan dengan sengaja, pintu pemulihan tetap terbuka. Sampai kapan? Sampai titik pintu pemulihan itu tutup, yakni saat kematian atau saat Yesus datang kembali sebagai Hakim.
Keempat, Tuhan mencari yang merasa tidak hilang. Tokoh anak sulung sering kali terabaikan, padahal ia juga “hilang” dalam cara yang berbeda. Ia tetap tinggal di rumah, tetapi hatinya penuh kepahitan, iri hati, dan rasa benar diri. Ia tidak memahami kasih dan kemurahan bapanya. Ini menggambarkan orang-orang yang secara lahiriah dekat dengan Tuhan. Mereka terlihat aktif, taat, dan religius, tetapi hatinya jauh. Tuhan juga mencari mereka, mengundang mereka untuk masuk ke dalam sukacita dan memahami hati-Nya.
Bapak/Ibu/Saudara sahabat HBC, Lukas 15 mengajarkan bahwa Tuhan mencari semua orang yang hilang, dalam bentuk apa pun. Baik yang tersesat, terjebak, memberontak, maupun yang merasa tidak hilang, semuanya menjadi sasaran kasih Tuhan. Tuhan tidak berhenti mencari, karena bagi-Nya, setiap jiwa berharga. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai setiap kita. (YAS)