preloader
  Back   

REFORMASI HATI

"Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia" (2 Raja-raja 23:25)

Saya masih ingat ketika lewat di depan sebuah rumah milik seorang Kristen sementara dibonceng oleh mama saya. Pagarnya dihiasi patung-patung burung undan yang berpose dengan cantiknya. "Harusnya tidak boleh ada patung," celetuk mama saya. "Memangnya kenapa, ma?" tanya saya yang masih kecil waktu itu. "Kan dibilang di firman Tuhan, gak boleh membuat patung," jawabnya.

Terdengar masuk akal memang. Dan seiring berjalannya waktu, saya meyakini bahwa dua perintah Allah yang pertama tidak pernah saya langgar. Toh, saya tidak pernah sujud di depan patung atau membuat patung. Namun, semakin ke sini, saya memahami bahwa berhala itu bukan soal patung atau gambar. Berhala itu soal hati.

Kita melihat di 2 Raja-raja 22-23 bagaimana Yosia memimpin reformasi rohani di Yehuda. Dia mulai dengan membersihkan Bait Suci yang penuh dengan berhala dan penyimpangan seksual, sampai berakhir di sebelah utara, di sisa-sisa Kerajaan Israel. Dia mengajak rakyat untuk merayakan Paskah yang sudah berabad-abad dilalaikan. Dia bahkan diakui sebagai satu-satunya raja yang sungguh-sungguh berbalik kepada Tuhan. Jika dibandingkan dengan Daud, menurut saya, Yosia membawa perubahan rohani yang jauh lebih nyata pada bangsa Israel.

Namun, meskipun Yosia sudah bekerja keras membersihkan Yehuda dari kecemarannya, ancaman pembuangan ke Babel tidak juga sirna. Di ayat 26-27, penulis kitab Raja-raja malah menegaskan bahwa pembuangan dan kehancuran Bait Suci tetap tidak terhindarkan. Yang makin memperparahnya adalah Yoahas, anak Yosia, yang justru menuntun bangsa Yehuda kembali kepada kejahatan. Yosia mungkin berhasil menghancurkan berhala yang kelihatan di mata orang Israel, tapi dia gagal menghancurkan berhala di dalam hati mereka.

Inilah yang gagal kita pahami. Kita mungkin tidak sujud menyembah patung, tapi hati kita menaruh harapan pada hal-hal yang sia-sia: uang, hubungan, pelayanan, pekerjaan, jabatan, prestasi, kekuatan fisik, kecerdasan, talenta, dan lain-lain. Tanpa kita sadari, hati kita dengan mudahnya menaruh harapan dan bergantung pada sesuatu selain Tuhan.

Inilah mengapa kita perlu Yosia yang baru. Yosia yang bukan menghancurkan berhala di depan mata, tapi yang di dalam hati. Dan Yosia itu adalah Yesus Kristus, Raja kita. Yesus membuat semua berhala dunia menjadi tak berdaya lewat kebodohan kayu salib. Di salib yang hina, Dia justru membawa keselamatan, pengharapan, dan hidup yang kekal bagi mereka yang percaya. Hanya dengan memandang pada Kristus saja lah, maka kita akan menyadari bahwa Ia jauh lebih mulia dari segala berhala hati kita.

Kepada siapa Anda menaruh percaya hari ini? Kepada siapa Anda berharap hari ini? Saya berdoa agar Roh Kudus mengarahkan kembali hati kita kepada Yesus, Raja kita yang mampu membersihkan hati kita dari segala berhala. (HDM)

Share