Back   
JANGAN CEPAT MENGHAKIMI
“Ingatlah: siapa binasa dengan tidak bersalah, dan di manakah orang yang jujur dipunahkan?” (Ayub 4:7)
Ada saatnya kita melihat seseorang mengalami kegagalan, kehilangan, penyakit, masalah keluarga, atau kesulitan ekonomi. Secara spontan kita mungkin berpikir, “Pasti ada yang salah dengan hidupnya.” Kita mudah menghubungkan penderitaan dengan kesalahan pribadi. Namun, apakah setiap penderitaan selalu merupakan akibat langsung dari dosa seseorang? Kisah Ayub mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.
Ayub 4:7 merupakan bagian dari perkataan Elifas kepada Ayub. Elifas sedang berusaha menjelaskan penderitaan Ayub berdasarkan pemahamannya bahwa orang yang menabur kejahatan akan menuai malapetaka. Secara umum, prinsip bahwa dosa memiliki konsekuensi memang benar. Namun, Elifas keliru ketika menerapkan prinsip tersebut secara sederhana kepada Ayub. Ia menganggap penderitaan Ayub sebagai bukti bahwa Ayub pasti telah melakukan kesalahan. Padahal, pembaca kitab Ayub mengetahui bahwa penderitaan Ayub bukanlah hukuman karena kejahatan tersembunyi.
Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghakimi keadaan seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat. Ada hal-hal yang tidak kita ketahui dalam kehidupan orang lain. Penderitaan seseorang tidak selalu menunjukkan bahwa ia sedang dihukum Tuhan. Karena itu, ketika melihat orang lain berada dalam pergumulan, panggilan kita bukanlah pertama-tama mencari kesalahannya, melainkan menghadirkan kasih dan penghiburan.
Hari ini, mari berhenti menjadi seperti Elifas yang cepat memberikan kesimpulan. Belajarlah menjadi sahabat yang mau mendengar, mendoakan, dan mendampingi. Jangan menambah luka seseorang dengan perkataan yang menghakimi. (YS)