Back   
JANGAN CEPAT MENGHAKIMI, BELAJARLAH MEMAHAMI
"Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri" (Roma 14:4)
Kita hidup di tengah banyak perbedaan. Ada perbedaan cara berpikir, kebiasaan, pilihan, bahkan cara seseorang menjalani kehidupan imannya. Sayangnya, perbedaan sering kali membuat kita lebih cepat menilai daripada memahami. Kita melihat seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan kita, lalu tanpa sadar memberikan kesimpulan tentang dirinya. Padahal, apa yang terlihat di luar belum tentu menggambarkan seluruh pergumulan yang ada di dalam hatinya.
Pesan yang disampaikan dalam bagian ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Paulus sedang mengingatkan jemaat agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan. Ada yang memiliki keyakinan tertentu mengenai makanan, ada yang memandang suatu hari lebih penting daripada hari lainnya, dan ada pula yang memiliki pandangan berbeda. Namun, masing-masing melakukannya dengan keyakinan di hadapan Tuhan. Yang menjadi persoalan bukan sekadar perbedaannya, tetapi bagaimana seseorang memperlakukan orang lain di tengah perbedaan tersebut.
Coba kita bayangkan sebuah keluarga yang sedang makan bersama. Setiap orang memiliki selera yang berbeda. Ada yang menyukai makanan pedas, ada yang tidak tahan pedas. Ada yang menyukai makanan tertentu, sementara yang lain memilih makanan yang berbeda. Perbedaan itu tidak membuat mereka berhenti menjadi keluarga. Mereka tetap duduk di meja yang sama dan menikmati kebersamaan. Demikian pula seharusnya kehidupan kita dengan sesama. Tidak semua hal harus sama agar kita dapat hidup dalam kasih dan saling menghargai.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada seseorang yang membuat kita tidak nyaman karena cara bicaranya, keputusannya, atau kebiasaannya. Kita mungkin merasa lebih baik jika ia mengikuti cara kita. Namun, sebelum menghakimi, ada baiknya kita belajar bertanya apakah kita benar-benar memahami keadaannya. Bisa jadi ada pergumulan yang tidak pernah ia ceritakan. Bisa jadi ia sedang belajar, sedang bertumbuh, atau sedang berusaha melakukan yang terbaik menurut pemahamannya.
Bagian ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab kepada Tuhan. Kita tidak perlu sibuk menentukan apakah orang lain layak atau tidak di hadapan Tuhan. Perhatian kita sebaiknya diarahkan kepada kehidupan kita sendiri. Apakah perkataan kita membawa kebaikan? Apakah sikap kita membuat orang lain merasa dihargai? Apakah kehadiran kita menjadi sumber damai atau justru menambah luka?
Karena itu, mari kita belajar mengurangi kebiasaan menghakimi dan memperbanyak kesempatan untuk memahami. Ketika berbeda pendapat, kita tidak harus memaksakan kehendak. Ketika melihat kekurangan seseorang, kita tidak perlu menjadikannya bahan pembicaraan. Terkadang, bentuk kasih yang sederhana adalah memilih diam, mendengarkan, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh.
Pada akhirnya, kita semua sedang berjalan dalam proses. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Kita pun tentu pernah melakukan kesalahan dan berharap orang lain memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaikinya. Maka, perlakukanlah sesama dengan kemurahan hati yang sama.
Sahabat HBC yang Tuhan Yesus kasihi, jangan terlalu cepat memberikan penilaian hanya karena seseorang berbeda dari kita. Belajarlah melihat manusia dengan hati yang lebih lembut. Pertahankan keyakinan kita dengan rendah hati, tetapi jangan menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain. Biarlah hari ini kita menjadi pribadi yang lebih sabar dalam memahami, lebih bijaksana dalam berbicara, dan lebih tulus dalam menghargai. Sebab kehidupan yang indah bukanlah kehidupan tanpa perbedaan, melainkan kehidupan yang mampu menjaga kasih di tengah perbedaan. Tetap semangat dan Tuhan Yesus memberkati. (DSP)