Bacaan Tanggal
08 Jul 2026


Doa dalam pergumulan
Mazmur 6:1-11

6:1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud.

6:2 Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.

6:3 Kasihanilah aku, Tuhan, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar,

6:4 dan jiwaku pun sangat terkejut; tetapi Engkau, Tuhan, berapa lama lagi?

6:5 Kembalilah pula, Tuhan, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.

6:6 Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?

6:7 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.

6:8 Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.

6:9 Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab Tuhan telah mendengar tangisku;

6:10 Tuhan telah mendengar permohonanku, Tuhan menerima doaku.

6:11 Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.



Dikutip dari Terjemahan Baru Bible © Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) 1974, 2018
Pecahnya kerajaan itu
2 Tawarikh 10:1–11:4
(1Raj. 12:1-24)

10:1 Kemudian Rehabeam pergi ke Sikhem, sebab seluruh Israel telah datang ke Sikhem untuk menobatkan dia menjadi raja.

10:2 Segera sesudah hal itu kedengaran kepada Yerobeam bin Nebat – ia ada di Mesir, sebab ia melarikan diri ke sana dari hadapan raja Salomo – maka kembalilah ia dari Mesir.

10:3 Orang menyuruh memanggil dia, lalu datanglah Yerobeam dengan seluruh orang Israel dan berkata kepada Rehabeam:

10:4 ”Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu.”

10:5 Tetapi ia menjawab mereka: ”Datanglah kembali kepadaku lusa.” Lalu pergilah rakyat itu.

10:6 Sesudah itu Rehabeam meminta nasihat dari para tua-tua yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya, katanya: ”Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?”

10:7 Mereka berkata kepadanya: ”Jika engkau mau berlaku ramah terhadap rakyat itu, mau menyenangkan mereka dan mengatakan kata-kata yang baik kepada mereka, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu.”

10:8 Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu, lalu ia meminta nasihat kepada orang-orang muda yang sebaya dengan dia dan yang mendampinginya,

10:9 katanya kepada mereka: ”Apakah nasihatmu, supaya kita dapat menjawab rakyat yang mengatakan kepadaku: Ringankanlah tanggungan yang dipikulkan kepada kami oleh ayahmu?”

10:10 Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: ”Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami – beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku!

10:11 Maka sekarang, ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat, tetapi aku akan menambah tanggungan kamu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.”

10:12 Lusanya datanglah Yerobeam dengan segenap rakyat kepada Rehabeam, seperti yang dikatakan raja: ”Kembalilah kepadaku lusa.”

10:13 Raja Rehabeam menjawab mereka dengan keras; ia telah mengabaikan nasihat para tua-tua;

10:14 ia mengatakan kepada mereka menurut nasihat orang-orang muda: ”Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambahnya; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.”

10:15 Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan Allah, supaya Tuhan menepati firman yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat.

10:16 Setelah seluruh Israel melihat, bahwa raja tidak mendengarkan permintaan mereka, maka rakyat menjawab raja:
”Bagian apakah kita dapat dari pada Daud? Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu! Masing-masing ke kemahmu, hai orang Israel! Uruslah sekarang rumahmu sendiri, hai Daud!” Maka pergilah seluruh orang Israel ke kemahnya,

10:17 sehingga Rehabeam menjadi raja hanya atas orang Israel yang diam di kota-kota Yehuda.

10:18 Kemudian raja Rehabeam mengutus Hadoram yang menjadi kepala rodi, tetapi orang-orang Israel melontari dia dengan batu, sehingga mati, bahkan raja Rehabeam hampir-hampir tidak dapat menaiki keretanya untuk melarikan diri ke Yerusalem.

10:19 Demikianlah mulanya orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini.


2 Tawarikh 11

11:1 Ketika Rehabeam datang ke Yerusalem, ia mengumpulkan kaum Yehuda dan Benyamin, seratus delapan puluh ribu teruna yang sanggup berperang untuk memerangi orang Israel dengan maksud mengembalikan kerajaan itu kepadanya.

11:2 Tetapi datanglah firman Tuhan kepada Semaya, abdi Allah, demikian:

11:3 ”Katakanlah kepada Rehabeam, anak Salomo, raja Yehuda, dan kepada segenap orang Israel di Yehuda dan di Benyamin, demikian:

11:4 Beginilah firman Tuhan: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi.” Maka mereka mendengarkan firman Tuhan dan pulang dengan tidak pergi menyerang Yerobeam.


Raja Rehabeam – Pengokohan kerajaan; keluarga raja
2 Tawarikh 11:5-23

11:5 Rehabeam diam di Yerusalem dan memperkuat kota-kota kubu di Yehuda.

11:6 Ia memperkuat Betlehem, Etam, Tekoa,

11:7 Bet-Zur, Sokho, Adulam,

11:8 Gat, Mares, Zif,

11:9 Adoraim, Lakhis, Azeka,

11:10 Zora, Ayalon dan Hebron, yang terletak di Yehuda dan di Benyamin, sebagai kota-kota berkubu.

11:11 Ia memperkokoh kota-kota kubu itu dan menempatkan di situ kepala-kepala pasukan dengan persediaan makanan, minyak dan anggur;

11:12 perisai dan tombak pun disediakan di tiap-tiap kota. Ia membuat kota-kota itu amat kokoh. Demikianlah Yehuda dan Benyamin menjadi daerah kekuasaannya.

11:13 Para imam dan orang Lewi di seluruh Israel datang menggabungkan diri dengan dia dari daerah-daerah kediaman mereka.

11:14 Sebab orang Lewi meninggalkan tanah penggembalaan dan milik mereka, lalu pergi ke Yehuda dan Yerusalem, oleh karena Yerobeam dan anak-anaknya melarang mereka memegang jabatan imam Tuhan,

11:15 dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya.

11:16 Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari Tuhan Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allah nenek moyang mereka.

11:17 Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo.

11:18 Rehabeam mengambil Mahalat, anak Yerimot bin Daud dan Abihail binti Elhiab bin Isai, menjadi isterinya,

11:19 yang melahirkan baginya anak-anak lelaki ini: Yeush, Semarya dan Zaham.

11:20 Sesudah Mahalat ia mengambil Maakha, anak Absalom, menjadi isterinya, yang melahirkan baginya Abia, Atai, Ziza dan Selomit.

11:21 Rehabeam mencintai Maakha, anak Absalom itu, lebih dari pada semua isteri dan gundiknya – ia mengambil delapan belas isteri dan enam puluh gundik dan memperanakkan dua puluh delapan anak laki-laki dan enam puluh anak perempuan.

11:22 Rehabeam mengangkat Abia, anak Maakha, sebagai pemuka, yakni sebagai pemimpin di antara saudara-saudaranya, karena ia bermaksud menjadikan dia raja.

11:23 Oleh sebab itu ia mengambil kebijaksanaan untuk menyebarkan semua anaknya yang lain ke seluruh daerah Yehuda dan Benyamin, ke segala kota kubu. Ia memberikan mereka makanan dengan limpahnya dan menyediakan bagi mereka banyak isteri.



Dikutip dari Terjemahan Baru Bible © Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) 1974, 2018
Sida-sida dari tanah Etiopia
Kisah Para Rasul 8:26-40

8:26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: ”Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi.

8:27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.

8:28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

8:29 Lalu kata Roh kepada Filipus: ”Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”

8:30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: ”Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?”

8:31 Jawabnya: ”Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.

8:32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.

8:33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

8:34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: ”Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?”

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ”Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”

8:37 [Sahut Filipus: ”Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: ”Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”]

8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

8:40 Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.



Dikutip dari Terjemahan Baru Bible © Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) 1974, 2018
Amsal 2:10-22

2:10 Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;

2:11 kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau

2:12 supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat,

2:13 dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap;

2:14 yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat,

2:15 yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya;

2:16 supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya,

2:17 yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya;

2:18 sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam maut, jalannya menuju ke arwah-arwah.

2:19 Segala orang yang datang kepadanya tidak balik kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan.

2:20 Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.

2:21 Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ,

2:22 tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan pengkhianat akan dibuang dari situ.



Dikutip dari Terjemahan Baru Bible © Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) 1974, 2018
KETIKA AIR MATA MENJADI DOA

[2Taw. 10 & 11] [Kis. 8:26-40] [Mzm. 6] [Ams. 2:10-22]

Ada seorang pelari maraton yang sudah berlari dua puluh kilometer, kakinya terasa remuk, napasnya habis, dan ia hampir menyerah. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus maju, bukan karena ia kuat, melainkan karena ia tahu ada garis finish di depannya. Mazmur 6 adalah nyanyian dari seseorang yang sedang berada di titik itu, di tepi batas, tubuhnya lemah, air matanya tidak berhenti, namun tetap berlari menuju satu arah, yaitu Tuhan. Di tengah tangisan itu, ada tiga kebenaran yang bisa kita pelajari:  

Pertama, Berani Jujur kepada Tuhan.  
Kata pertama yang digunakan Daud adalah "kasihanilah aku": sebuah permohonan. Bukan sekadar meminta bantuan, melainkan seruan dari orang yang sadar bahwa ia tidak punya tempat untuk berteduh. Daud tidak menyembunyikan kondisinya: "'Lesu aku karena mengeluh;" (ay. 7). Kata "lesu" berarti kelelahan total, habis sampai ke sumsum. Kejujuran Daud di hadapan Tuhan bukan kelemahan, itu adalah iman yang dewasa. Kita berpura-pura semuanya baik-baik saja, Ia mengundang kita membawa diri kita yang sesungguhnya.  

Kedua, Air Mata Adalah Bahasa Doa  
"Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku" (ay. 7), yang berarti berenang atau mengapung. Daud tidak hanya menangis, ia menggambarkan air mata yang mengalir sampai membasahi seluruh ranjangnya. Ini bukan lebay. Ini adalah ekspresi doa yang paling dalam dan paling tulus. Dalam tradisi Yahudi, air mata dianggap sebagai "doa yang melampaui kata-kata". Tuhan tidak pernah membuang air mata itu,  

Mazmur 56:8 mengingatkan kita bahwa Tuhan menyimpan setiap air mata kita dalam kirbat-Nya. Jika hari ini kamu berdoa sambil menangis, ingatlah bahwa itu adalah doa yang paling kuat yang bisa kita panjatkan.  

Ketiga, Keyakinan Mendahului Jawaban. Di ayat 9, terjadi pergeseran yang luar biasa: dari ratapan ke deklarasi: "Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan." Tidak ada yang berubah secara fisik, kondisi Daud mungkin sama. Tapi sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Kata kunci di sini adalah bahwa TUHAN telah mendengar. Bentuk kata kerja ini menunjukkan suatu tindakan yang sudah selesai dan pasti. Daud berbicara tentang masa depan dengan keyakinan masa lalu. Itulah iman yang sejati: bukan menunggu kondisi berubah untuk percaya, melainkan percaya sebelum kondisi berubah.  

Pelari maraton itu akhirnya melewati garis finish, bukan karena ia tidak pernah ingin menyerah, melainkan karena ia terus berlari dalam keadaan apapun. Mazmur 6 mengajarkan kita bahwa iman bukan berarti tidak pernah hancur. Iman adalah tetap berlari kepada Tuhan, bahkan ketika air mata mengaburkan pandangan mata kita, AMIN (ES)